Monday, 22 Safar 1441 / 21 October 2019

Monday, 22 Safar 1441 / 21 October 2019

Rusia Desak AS Batalkan Penambahan Pasukan di Timur Tengah

Rabu 19 Jun 2019 11:34 WIB

Red: Ani Nursalikah

Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov.

Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov.

Foto: EPA
Rusia menyebut penambahan pasukan AS memprovokasi perang melawan Iran.

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW -- Rusia mendesak Amerika Serikat (AS) membatalkan apa yang disebutnya rencana provokatif dengan mengerahkan lagi tentara ke Timur Tengah, Selasa (18/6). Rusia juga meminta AS menghentikan aksi-aksi, yang kelihatan seperti usaha yang disadari memprovokasi perang melawan Iran.

Wakil Menteri Luar Negeri Sergei Ryabkov menyampaikan pernyataan tersebut kepada kantor-kantor berita Rusia. Pernyataan tersebut dikeluarkan setelah pengumuman oleh penjabat Menteri Pertahanan Amerika Serikat Patrick Shanahan sehari sebelumnya. Shanahan mengatakan Washington berencana mengirim lagi sekitar 1.000 personel militer ke Timur Tengah sebagai langkah defensif.

Presiden Hassan Rouhani mengatakan pada Selasa Iran tak akan berperang melawan negara mana pun. Kremlin, kantor kepresidenan Rusia, menyerukan semua pihak untuk menahan diri.

Ryabkov mengatakan kepada para wartawan Moskow telah berulang-ulang memperingatkan Washington dan para sekutunya di kawasan. Rusia menyebut tindakan itu sembrono dan tanpa dipikirkan, yang dapat memompa ketegangan di sebuah kawasan yang mudah meledak.

"Sekarang apa yang kita lihat ialah usaha-usaha yang tiada henti dilakukan AS untuk melakukan tekanan politik, psikologi, ekonomi dan, ya, tekanan militer terhadap Iran dengan cara yang provokatif. (Tindakan-tindakan ini) tidak dapat dinilai sebagai apa pun kecuali upaya yang disadari untuk memprovokasi perang. Jika Washington tidak menginginkan perang jangan lakukan itu," kata Ryabkov seperti yang dikutip media.

Baca Juga

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA