Friday, 14 Sya'ban 1440 / 19 April 2019

Friday, 14 Sya'ban 1440 / 19 April 2019

Sejarah Hari Ini: Kecelakaan Hebat Kapal Feri Selandia Baru

Kamis 11 Apr 2019 10:30 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Nur Aini

Ilustrasi Kapal Tenggelam

Ilustrasi Kapal Tenggelam

Foto: Foto : MgRol112
Kapal feri terbalik setelah menabrak batu tajam di pantai Wellington, Selandia Baru.

REPUBLIKA.CO.ID, WELLINGTON -- Pada 11 April 1967, hari di mana petugas melakukan penyelamatan terakhir bagi penumpang kapal ferry, Wahine yang mengalami kecelakaan satu hari sebelumnya. History mencatat, petugas penyelamat berupaya menyelamatkan korban selamat terakhir dari kecelakaan kapal feri Wahine.

Baca Juga

Feri tersebut terbalik setelah menabrak batu tajam di lepas pantai Wellington, Selandia Baru, satu hari sebelumnya. Sebanyak 51 dari lebih 800 penumpang dan awak di kapal tewas dalam kecelakaan itu.

Wahine dibuat pada 1963 di Skotlandia, namun baru dioperasikan pada 1966 di Selandia Baru. Kapal besar itu bisa menampung 927 penumpang, memiliki panjang 488 kaki dan berat 9.000 ton. Itu adalah salah satu feri terbesar di dunia.

Kapal memulai perjalanan yang terakhir dari 67 perjalanan karirnya pada 9 April di saat yang sama Topan Giselle mendatangkan malapetaka di Selandia Baru. Ketika feri berangkat dari Lyttelton dengan 734 penumpang, para kru percaya bahwa topan itu terlalu jauh untuk menimbulkan bahaya; nahas perjalannya kala itu terbukti merupakan kesalahan fatal. Pagi berikutnya, badai dahsyat, dengan kecepatan angin mendekati 100 mil per jam, tiba ketika Wahine mendekati Wellington Harbour.

Kru kapal kesulitan menavigasi melalui badai dan laut yang kasar, sehingga Wahine kehilangan radar. Dengan jarak pandang yang sangat jauh, kapal menabrak karang. Meskipun para penumpang hampir tidak menyadari tabrakan, kerusakan pada bagian bawah kapal sangat luas. Sementara jaket pelampung didistribusikan, kapal menjatuhkan jangkar.

Kapal-kapal bantuan dikirim untuk membantu Wahine, tetapi upaya mereka terbukti sia-sia dalam badai yang dahsyat itu. Kapal terus dihantam oleh badai sepanjang hari, sementara kru terus meyakinkan penumpang bahwa tidak ada bahaya. Namun, akhirnya, mereka mengumumkan bahwa kapal itu harus ditinggalkan. Penundaan keputusan dan kegagalan awak untuk mempersiapkan penumpang adalah malapetaka kala itu.

Pantai sudah terlihat dan ada beberapa kapal lain di dekatnya, tetapi melarikan diri dari Wahine tidak mudah. Sebagian besar dari mereka mati tenggelam setelah sekoci mereka diluncurkan. Kapten Hector Robinson adalah yang terakhir melompat dari kapal, tepat sebelum kapal tenggelam dan dia selamat.

Upaya untuk membawa Wahine kembali ke permukaan terhambat setelah badai Mei 1969 memecah kapal menjadi tiga bagian. Kini tiang untuk memeringati kecelakaan pilu itu masih berdiri di pelabuhan Wellington.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA