Rabu 06 Jul 2016 13:29 WIB

Madinah Diserang, Iran Minta Sunni-Syiah Bersatu

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Achmad Syalaby
Asap hitam membumbung setelah ledakan bom di luar lingkungan kompleks Masjid Nabawi, Madinah, Arab Saudi, Senin (4/7).
Foto: EPA/Saudi Press Agency
Asap hitam membumbung setelah ledakan bom di luar lingkungan kompleks Masjid Nabawi, Madinah, Arab Saudi, Senin (4/7).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Para pemimpin dunia Muslim mengecam keras aksi serangan dekat masjid Nabawi di Madinah, Selasa (5/7). Mereka juga mendesak agar Sunni dan Syiah berjuang bersama melawan terorisme di dunia Islam.

Mereka mengenyampingkan perbedaan untuk bersama menyatakan persatuan. Serangan di dekat masjid Nabi Muhammad SAW itu dikonfirmasi oleh Kerajaan Arab Saudi. 

Pelaku meledakkan diri hingga menewaskan empat penjaga keamanan. Tak hanya di Madinah, serangan bom juga terjadi di Jeddah dan Qatif. Juru bicara Kementerian Dalam Negeri Arab Saudi mengatakan pengeboman itu aksi tercela yang tidak menghormati semua pihak.

Menteri Dalam Negeri Iran, Javad Zarif mengecam aksi yang disebutnya teror itu. Ia menyeru agar Syiah dan Sunni bersatu. "Sunni dan Syiah keduanya akan terus jadi korban kecuali kita bersatu," kata dia di akun @JZarif seperti dikutip dari Aljazirah.

 

Perdana Menteri Malaysia, Najib Razak juga menyatakan keterkejutannya atas insiden. "Kami mengecam aksi tersebut khusus karena ini terjadi di kota suci Madinah dan masjid Nabi. Aksi ini bukan Islam," katanya.

Al Azhar, otoritas tertinggi dalam Islam Sunni juga mengecam aksi tersebut dan menegaskan bahwa masjid Nabawi adalah tempat suci. Kelompok Syiah Hizbullah tak ketinggalan mengecam serangan Madinah yang disebutnya tanda baru teroris.Kecaman datang dari semua negara, tak hanya politisi, tapi juga semua kalangan termasuk artis, penulis, peneliti hingga atlet. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement