Kamis, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Kamis, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Tentara Pemerintah Rebut Kembali Sarawah Yaman Barat

Senin 31 Des 2018 21:32 WIB

Red: Nashih Nashrullah

Tentara Yaman

Tentara Yaman

Foto: VOA
Pertempuran tersebut menewaskan dan melukai puluhan anggota milisi Syiah Houthi.

REPUBLIKA.CO.ID, ADEN—  Tentara Nasional Yaman mengumumkan pasukannya telah membuat kemajuan di lapangan. Direktorat Sarawah di Gubernuran Marib, Yaman Barat berhasil direbut. 

Satu sumber militer Yaman mengatakan, "Prajurit militer merebut kembali Al-Groon Tibet, yang berada di atas Kota Sarawah, sementara anggota Al-Houthi bersenjata menyelamatkan diri setelah serangan gencar militer."

Sumber tersebut mengatakan, satuan militer ditmpatkan di kedua kota besar itu, yang dari pusat kota berjarak sekitar tiga kilometer, kata Kementerian Pertahanan Yaman, sebagaimana dilaporkan Kantor Berita Arab Saudi, SPA.

Pertempuran tersebut menewaskan dan melukai puluhan anggota milisi Syiah Houthi, selain menghancurkan kendaraan mereka.

Sumber militer itu menyatakan senjata artileri militer membom posisi bala bantuan Houthi saat mereka dalam perjalanan ke daerah bentrokan sehingga dua kendaraan milisi Houthi rusak dan semua anggota bala bantuan milisi Syiah tersebut tewas atau cedera.

Sementara itu juru bicara Houthi pada Sabtu (29/12) mengatakan gerilyawan telah mulai menggelar kembali anggotanya di Kota Pantai Yaman, Hodeidah. 

"Pasukan komite rakyat dan militer pada Jumat malam memulai tahap pertama penggelaran kembali di Hodeidah," kata Brig Jend Yahya Sari di dalam satu pernyataan yang dikutip kantor berita yang dikuasai Houthi, Saba.

Ia mengatakan penggelaran kembali tersebut adalah bagian dari kesepakatan yang diperantarai PBB dengan pemerintah yang dicapai selama pembicaraan perdamaian di Swedia pada awal Desember.

"Kami berharap Komite Pemantauan PBB mengharuskan pihak lain melaksanakan kewajibannya berdasarkan tahap pertama Kesepakatan Stockholm, untuk mundur dari sisi barat kota itu dan wilayah lain," katanya.

Tak ada komentar dari Pemerintah Yaman mengenai pengumuman Houthi tersebut.

Hodeidah, tempat beberapa pelabuhan strategis di Yaman, merupakan nadi kehidupan buat penduduk sipil Yaman, yang terkepung. Banyak bantuan kemanusiaan secara rutin mengalir melalui kota pelabuhan itu.

Pihak yang berperang di Yaman pada awal Desember sepakat untuk menarik pasukan mereka dari kota pelabuhan Laut Merah tersebut dan melaksanakan gencatan senjata selama pembicaraan yang ditaja PBB di Swedia.

Pertengahan Desember, Dewan Keamanan PBB dengan suara bulat mensahkan resolusi yang ditaja Inggris, dan menyetujui penggelaran tim PBB untuk memantau gencatan senjata di Hodeidah.

Yaman terjerumus dalam perang saudara pada 2014, ketika gerilyawan Syiah Houthi merebut sebagian besar wilayah negeri itu, termasuk Ibu Kotanya, Sana'a, dan memaksa pemerintah menyelamatkan diri ke Arab Saudi.

Setahun kemudian, Arab Saudi dan beberapa sekutu Arabnya melancarkan serangan udara gencar dengan tujuan memutar-balikkan perolehan Houthi.

Operasi pimpinan Arab Saudi di Yaman tersebut telah memporak-porandakan prasarana di negeri itu, termasuk sistem kebersihan dan kesehatan, sehingga PBB menggambarkannya sebagai salah satu bencana kemanusiaan paling buruk pada jaman modern.

 

 

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA