Friday, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 December 2019

Friday, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 December 2019

Mike Pompeo Kunjungi Saudi untuk Bahas Iran

Senin 24 Jun 2019 15:55 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Nur Aini

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo di Washington.

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo di Washington.

Foto: AP Photo/Sait Serkan Gurbuz
Menlu Saudi Mike Pompeo akan membahas Iran yang dituding serang kapal tanker.

REPUBLIKA.CO.ID, RIYADH -- Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Mike Pompeo mengunjungi Arab Saudi, Senin (24/6). Kunjungannya ke sana bertujuan mendiskusikan situasi terkini di kawasan, terutama perihal ketegangan antara negaranya dengan Iran.

Baca Juga

Saat mendarat di Jeddah, Pompeo mengatakan bahwa AS ingin menjalin pembicaraan dengan Iran. Meskipun, dia tak menampik rencana negaranya menerapkan sanksi ekonomi baru terhadap Teheran.

“Kita akan berbicara dengan (Arab Saudi dan Uni Emirat Arab) tentang bagaimana memastikan bahwa kita semua selaras secara strategis dan bagaimana kita dapat membangun koalisi global, koalisi yang memahami tantangan ini,” ujar Pompeo.

Dari Saudi, Pompeo memang akan melanjutkan perjalanannya ke Uni Emirate Arab (UEA). Saat berada di Abu Dhabi, Pompeo diperkirakan akan membahas tentang serangan terhadap sejumlah kapal tanker di dekat Selat Hormuz dalam sebulan terakhir. Iran dituding menjadi dalang di balik peristiwa tersebut.

Hubungan AS dan Iran semakin memanas setelah Pasukan Garda Revolusi Iran menembak jatuh pesawat nirawak milik Washington pada Kamis pekan lalu. Teheran mengklaim pesawat tersebut memasuki wilayah udaranya. Sementara, AS menyatakan, pesawatnya terbang di zona udara internasional.

Setelah insiden tersebut, Presiden AS Donald Trump dilaporkan sempat memerintahkan militer AS untuk menyerang Teheran. Namun, dia membatalkannya pada menit-menit akhir menjelang pelaksanaan eksekusi.

Pejabat militer Iran, Mayor Jenderal Gholamali Rashid memperingatkan tentang potensi menyebarnya konflik di kawasan Teluk jika terjadi peperangan. "Jika konflik pecah di kawasan itu, tak ada negara yang akan mampu mengatur ruang lingkup dan waktunya," ujarnya pada Ahad lalu.

Dia menilai, Pemerintah AS juga harus memperhatikan hal tersebut. "Pemerintah Amerika harus bertindak secara bertanggung jawab untuk melindungi nyawa pasukannya dengan menghindari pelanggaran di wilayah itu," kata Rashid. 

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA