REPUBLIKA.CO.ID,KANDAHAR--Pasukan NATO membunuh dua warga sipil Afghanistan, Kamis, ketika mereka melepaskan tembakan ke sebuah mobil yang menurut mereka berusaha menyerang patroli pasukan di kota Kandahar, Afghanistan selatan, kata beberapa pejabat. Pasukan Bantuan Keamanan Internasional (ISAF) pimpinan NATO mengatakan, pasukan menembak setelah kendaraan itu melakukan upaya yang disengaja untuk menyerang patroli ISAF, namun polisi mengatakan bahwa itu sebuah kecelakaan lalu-lintas.
"Menyedihkan, dua orang sipil tewas dan dua lain cedera, termasuk seorang warga berusia 16 tahun," kata juru bicara ISAF Mayor Tim James kepada AFP di Kabul, ibukota Afghanistan.
Sebuah pernyataan ISAF mengatakan kemudian, penembakan dilakukan oleh pasukan yang menganggap "tindakan supir sebagai upaya yang disengaja untuk menyerang pasukan, menurut laporan-laporan awal".
"Setelah anggota-anggota pasukan patroli melepaskan tembakan, kendaraan itu masuk parit dan terbalik. Akibat insiden itu, supir cedera dan seorang penumpang tewas," katanya. Seorang lagi tewas setelah terhantam mobil tersebut, kata pernyataan itu.
Daud Farhad, seorang dokter di Rumah Sakit Mirwais di kota Kandahar, mengatakan, pihaknya telah menerima mayat seorang anak laki-laki berusia 15 tahun dan seorang pria berusia 40 tahun dengan luka-luka peluru. Namun, wakil kepala kepolisian provinsi Kandahar Fazel Ahmad Sherzad mengatakan, prajurit ISAF melepaskan tembakan setelah sebuah mobil sipil menabrak salah satu kendaraan mereka dalam kecelakaan lalu-lintas.
Kematian sipil dalam operasi militer merupakan masalah sangat sensitif di Afghanistan ketika pasukan koalisi bersiap-siap menyerahkan tanggung jawab keamanan kepada pasukan Afghanistan pada 2014. Peristiwa sangat menyedihkan terjadi ketika sembilan anak yang mencari kayu bakar tewas dalam serangan udara NATO di dekat perbatasan dengan Pakistan bulan lalu.
Presiden Afghanistan Hamid Karzai menolak permintaan maaf panglima pasukan asing di Afghanistan Jendral AS David Petraeus atas kematian kesembilan anak dalam serangan udara di provinsi Kunar, Afghanistan timur, itu. Masalah kematian sipil telah mengikis dukungan rakyat bagi pemerintah Karzai yang didukung Barat.
Konflik meningkat di Afghanistan dengan jumlah kematian sipil dan militer mencapai tingkat tertinggi tahun lalu ketika kekerasan yang dikobarkan Taliban meluas dari wilayah tradisional di selatan dan timur ke daerah-daerah barat dan utara yang dulu stabil. Sebanyak 711 prajurit asing tewas dalam perang di Afghanistan sepanjang tahun lalu, yang menjadikan 2010 sebagai tahun paling mematikan bagi pasukan asing, menurut hitungan AFP yang berdasarkan atas situs independen icasualties.org.
Jumlah kematian sipil juga meningkat, dan Kementerian Dalam Negeri Afghanistan mengumumkan bahwa 2.043 warga sipil tewas pada 2010 akibat serangan Taliban dan operasi militer yang ditujukan pada gerilyawan. Pemimpin Taliban Mullah Omar telah menyatakan, pihaknya meningkatkan serangan taktis terhadap pasukan koalisi untuk memerangkap musuh dalam perang yang melelahkan dan mengusir mereka seperti pasukan eks-Uni Sovyet.
Saat ini terdapat lebih dari 150.000 prajurit yang ditempatkan di Afghanistan untuk membantu pemerintah Presiden Hamid Karzai memerangi gerilyawan Taliban. Taliban, yang memerintah Afghanistan sejak 1996, mengobarkan pemberontakan sejak digulingkan dari kekuasaan di negara itu oleh invasi pimpinan AS pada 2001 karena menolak menyerahkan pemimpin Al-Qaeda Osama bin Laden, yang dituduh bertanggung jawab atas serangan di wilayah Amerika yang menewaskan sekitar 3.000 orang pada 11 September 2001.
Pasukan Bantuan Keamanan Internasional (ISAF) pimpinan NATO mencakup puluhan ribu prajurit yang berasal dari 43 negara, yang bertujuan memulihkan demokrasi, keamanan dan membangun kembali Afghanistan, namun kini masih berusaha memadamkan pemberontakan Taliban dan sekutunya.
Sekitar 521 prajurit asing tewas sepanjang 2009, yang menjadikan tahun itu sebagai tahun mematikan bagi pasukan internasional sejak invasi pimpinan AS pada 2001 dan membuat dukungan publik Barat terhadap perang itu merosot.
Gerilyawan Taliban sangat bergantung pada penggunaan bom pinggir jalan dan serangan bunuh diri untuk melawan pemerintah Afghanistan dan pasukan asing yang ditempatkan di negara tersebut.
Bom rakitan yang dikenal sebagai IED (peledak improvisasi) mengakibatkan 70-80 persen korban di pihak pasukan asing di Afghanistan, menurut militer.