REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON - Pakistan telah meminta Amerika Serikat untuk memangkas jumlah agen CIA dan pasukan khususnya yang beroperasi di Pakistan, dan mengendalikan serangan pesawat tak berawak terhadap militan, demikian disebutkan oleh harian Amerika, Senin (11/4). Koran New York Times menyebutkan bahwa permintaan Pakistan ini bergaung kuat saat kerjasama Pakistan-Amerika mulai hancur, sebagai akibat dari kejadian yang enyebabkan personel CIA Raymond Davis tertembak dan tewasnya dua orang yang berusaha merampoknya bulan Januari lampau.
Menurut pemberitaan koran Amerika, pihak terkait di Islamabad meminta agar 335 personel CIA, tenaga kontrak, dan pasukan khusus Amerika meninggalkan negeri itu. Panglima Angkatan Bersenjata Pakistan Jenderal Ashfaq Kayani secara khusus telah meminta pengurangan ini.
Berita permintaan ini muncul setelah Letnan Jenderal Ahmad Shuja Pasha, kepala Badan Intelejen Pakistan (ISI), bertemu dengan Leon Panetta, direktur CIA. George Little, jurubicara CIA, mengatakan kepada AFP bahwa pembicaraan kedua petinggi itu sangat produktif dan ISI tetap berada di posisi yang "kuat".
Pejabat Pakistan yang terlibat dalam keputusan meminta pengurangan personel Amerika di Pakistan itu mengatakan kepada harian New York Times bahwa Pakistan menduga keinginan Washington yang sebenarnya adalah untuk menetralisir senjata nuklir negeri Muslim tersebut. Masih menurut pemberitaan New York Times, Kayani telah meminta agar personel pasukan khusus Amerika dikurangi 25-40 persen, yang kebanyakan dari mereka melatih para-militer
Pasukan Depan Pakistan di kawasan suku utara Pakistan yang menjadi rumah bagi Taliban dan Al-Qaeda.
Pakistan juga mendesak agar ada kuota 120 orang pasukan khusus tetap beroperasi di Pakistan, jumlah yang dinilai telah dilampaui saat ini. Pakistan pun meminta Washington untuk menghapus semua tenaga kontrak untuk bekerja kepada CIA dan agen-agen CIA yang terlibat dalam semua misi yang tidak diketahui oleh ISI.
Davis dilaporkan terlibat dalam tugas penyamar CIA untuk menyelusup ke kelompok militan Laskar Taiba. Seorang pejabat Pakistan yang bertemu dengan pimpinan tertinggi tentara Pakistan menyebutkan "Kayani meminta agar serangan pesawat tak berawak dihentikan" setelah keluhannya tentang jumlah serangan pesawat tak berawak yang tak terkendali sejak Obama menjadi presiden Amerika.
Jika mereka tidak bisa dihentikan, Kayani mendesak, maka kampanye harus kembali ke serangan terbatas seperti sebelumnya dan menyerang hanya daerah-daerah di utara Waziristan, demikian diwartakan New York Times.