Kamis 14 Apr 2011 18:22 WIB

Lima Negara Kekuatan Baru: Rombak Dewan Keamanan PBB

REPUBLIKA.CO.ID,SANYA, CINA--Pemimpin dari lima negara kekuatan baru pada Kamis meminta adanya reformasi dalam Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa sehingga memberi kesempatan bicara bagi negara berkembang untuk menekankan isu global. Presiden Cina Hu Jintao dan rekan timpalannya dari Rusia Dmitry Medvedev --anggota tetap DK PBB-- bergabung dengan rekan mereka sesama anggota BRICS dari India, Brasil dan Afrika Selatan di tempat peristirahatan Cina selatan, Sanya, untuk pertemuan tahunan yang bertujuan meningkatkan kerja sama kelompok itu.

Ketiga negara terakhir saat ini merupakan anggota bergilir DK PBB namun berupaya mendapatkan kursi perwakilan tetap -- baik sebagai satu negara maupun bagi kawasan mereka -- agar sesuai dengan meningkatnya pengaruh mereka di dunia. "Reformasi PBB dan DK PBB sangat penting. Tidak mungkin bila... kita masih tetap mengacu pada kesepakatan institusional yang dibuat pada masa setelah perang," kata Presiden Brazil Dilma Rousseff kepada wartawan.Selain Hu, Medvedev dan Rousseff, pembicaraan pagi yang membahas berbagai isu itu juga dihadiri oleh Presiden Afrika Selatan Jacob Zuma dan Perdana Menteri India Manmohan Singh.

Pada konferensi pers bersama setelah pertemuan, Zuma berkata, "Kami setuju mengenai pentingnya reformasi sistem DK PBB agar menjadi lebih representatif dan efektif."Cina dan Rusia menyampaikan dukungan atas permintaan tersebut dalam pernyataan bersama yang diungkapkan kelima negara -- yang secara bersama mewakili 40 persen populasi dunia. "Cina dan Rusia mengulang pentingnya mereka mencantumkan status India, Brazil dan Afrika Selatan dalam masalah internasional serta mengerti dan mendukung aspirasi mereka untuk memainkan peran yang lebih penting dalam PBB," tulis pernyataan itu.

Baik India dan Brasil akan senang atas status permanen bagi mereka sendiri dalam DK PBB -- tindakan yang didukung oleh Rusia namun belum secara resmi didorong oleh Cina. Brasil, Jerman, India dan Jepang yang juga disebut oleh Kelompok Empat (G4), memperbarui kampanye jangka panjang mereka untuk mendapatkan kursi DK PBB tahun lalu.Afrika Selatan meyakini bahwa mereka harus memiliki dua kursi tetap dalam DK PBB dengan Afrika Selatan, Nigeria dan Mesir diperkirakan akan menjadi saingan.

Negara-negara Arab dan Amerika Latin juga meminta perwakilan yang lebih besar. Pernyataan dalam pertemuan BRICS tersebut dinyatakan setelah pembicaraan yang juga menyebutkan bahwa penggunaan kekuatan militer di Libya dan dunia Arab seharusnya dihindari.Afrika Selatan adalah satu-satunya negara BRICS yang menerima resolusi DK PBB untuk menerapkan zona larangan terbang atas Libya dan memerintahkan "semua tindakan yang diperlukan" untuk melindungi warga sipil, membuka pintu bagi serangan udara tentara koalisi.

Keempat negara lainnya telah menyampaikan kekhawatiran bahwa operasi militer yang dipimpin oleh Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) --yang ditujukan untuk menggagalkan serangan Muammar Qaddafi atas kelompok pemberontak demi mengakhiri pemerintahannya selama 41 tahun-- menghasilkan korban jiwa. Cina dan Rusia yang dapat memveto resolusi itu, memilih untuk abstain.

sumber : antara/AFP
Berita Lainnya

Rekomendasi