REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK - Daging yang terdapat di rak toko bahan pangan AS seringkali berisi bakteri tingkat tinggi, dan lebih separuhnya adalah bakteri yang tahan terhadap banyak jenis antibiotik, demikian hasil satu studi yang disiarkan Jumat (15/4).
Daging tersebut memang masih aman untuk dikonsumsi tapi konsumen mesti berhati-hati terutama dalam mengolah dan memasaknya, kata kepala peneliti studi itu. Translational Genomics Research Institute, kelompok peneliti biomedis nir-laba, memeriksa 136 sampel daging dari 26 toko makanan di Illionis, Florida, California, Arizona dan Washington DC.
Lance Price, pemimpin peneliti di dalam studi tersebut, mengatakan bakteri tingkat tinggi Staphylococcus aureus (S aureus) ditemukan di dalam daging tersebut. "Staph mengakibatkan ratusan ribu infeksi di Amerika Serikat setiap tahun," kata Price di dalam satu wawancara. "Bakteri itu mengakibatkan sejumlah infeksi mulai dari infeksi kulit sampai infeksi pernafasan yang sangat parah seperti radang paru-paru."
Food and Drug Administration (FDA) menyatakan lembaga tersebut tahu mengenai temuan studi itu dan studi serupa mengenai bakteri yang kebal antibiotik pada daging, dan akan bekerja-sama dengan U.S. Agriculture Departmen dan Centers for Disease Control and Prevention guna menangani masalah tersebut.
Price mengatakan temuan yang paling penting bukan lah tingkat bakteri pada daging, tapi bagaimana bakteri itu bisa sangat tahan terhadap antibiotik yang digunakan untuk merawat hewan sebelum disembelih.
Studi tersebut mendapati pada 96 persen daging yang mengandung bakteri Staph, bakteri itu kebal terhadap satu jenis antibiotik, dan 52 persen tahan terhadap tiga jenis antibiotik atau lebih.
"Bakteri akan selalu ada. Tapi alasan mengapa bakteri tersebut tahan berkaitan langsung dengan penggunaan antibiotik pada produksi hewan untuk dimakan," kata Price. "Ketahanan terhadap antibiotik adalah salah satu ancaman terbesar terhadap kesehatan masyarakat yang kita hadapi hari ini."
"Ini adalah satu alasan lagi untuk sangat berhati-hati ketika orang menangani daging mentah dan unggas di dapur," kata Price. "Orang bisa menghilangkan bakteri ini dengan memasaknya. Tapi masalahnya ialah ketika orang membawa pulang produk mentah, orang tak bisa menghindari ia mencemari dapurnya dengan bakteri ini."
Ayam kalkun adalah daging yang paling sering mengandung bakteri yang tahan terhadap tiga, atau lebih, antibiotik, lalu diikuti oleh daging babi, sapi, dan ayam.
Studi tersebut disiarkan di jurnal Clinical Infectious Diseases pada Jumat.