Rabu 11 May 2011 06:52 WIB

Polisi Antiteror Turki Tahan 34 Akvitis Partai AK

REPUBLIKA.CO.ID,ISTAMBUL--Polisi antiteror telah menahan 34 orang, Selasa, dalam serangan fajar di Istanbul yang ditujukan pada kelompok-kelompok yang diduga memiliki hubungan dengan sebuah gerakan militan sayap kiri tidak sah, kantor berita Turki melaporkan.

Serangan itu diperintahkan hanya sebulan sebelum masyarakat Turki memilih dalam pemilihan anggota dewan yang diperkirakan akan menghasilkan kemenangan dan masa jabatan ketiga berturut-turut bagi Perdana Menteri Tayyip Erdogan dan Partai Pembangunan, yang dikenal sebagai Partai AK.

Di antara mereka yang ditahan, menurut kantor berita Dogan dan kantor berita Anatolia milik negara, adalah tiga musisi, semuanya anggota kelompok protes rakyat yang disebut Kelompok Yorum.

Polisi telah melancarkan tiga serangan hampir bersamaan di kantor Organisasi Kebebasan dan HAM Okmeydani dan Pusat Kebudayaan Idil, yang digunakan oleh Kelompok Yorum. Seorang pengacara bagi para tahanan itu mengatakan pada Dogan bahwa mereka diduga memiliki hubungan dengan gerakan sayap kiri yang disebut DHKP-C.

DKHP-C dipersalahkan atas serangan bunuh diri pada 2001 yang menewaskan dua polisi dan satu wisatawan di Lapangan Taksim di Istanbul tengah.

Beberapa pengkritik, dengan menyebut latar belakang pemimpin seperti Erdogan, mengkhawatirkan AK bermaksud memundurkan sekularisme tradisional Turki modern.

Yang lain mempersamakan partai itu dengan versi Muslim partai Demokrat Kristen di Eropa, yang liberal dalam masalah ekonomi dan konservatif dalam masalah sosial.

Penangkapan sejumlah wartawan dalam beberapa bulan belakangan ini karena dicurigai memiliki hubungan dengan yang diduga jaringan sekularis militan, yang disebut Ergenekon, telah menimbulkan kekhawatiran mengenai kebebasan pers di Turki yang calon anggota Uni Eropa.

Ratusan lagi orang telah ditahan tanpa diadili berkaitan dengan penyelidikan Ergenekon yang meluas, yang dimulai pada 2007.

Ada dukungan mula-mula pada penyelidikan itu dari rakyat Turki yang telah lelah melihat pemerintah yang dipilih dijatuhkan oleh kudeta militer, tapi dukungan itu menurun ketika keraguan muncul mengenai apakah para penuntut telah menggunakan kekuasaan mereka untuk membungkam kritik terhadap AK.

sumber : antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement