Jumat 13 May 2011 16:03 WIB

Alqaidah Diduga Dalang Tewasnya Lima Tentara Yaman

REPUBLIKA.CO.ID, SANAA - Para gerilyawan Al Qaida diduga menyerang satu kendaraan militer dan menewaskan lima tentara di dekat kota Yaman, Marib, di timur ibu kota Sanaa, pada Jumat (13/5), kata seorang perwira keamanan kepada AFP. "Kendaraan itu diserang dengan granat diluncurkan oleh roket (RPG) dan semua kelima tentara yang ada di dalamnya tewas," kata pejabat tersebut. "Al Qaida diduga sebagai pelaku serangan itu," katanya menambahkan.

Penyergapan tersebut terjadi sehari setelah pasukan keamanan menewaskan 19 pelaku aksi ujukrasa yang menentang Presiden Ali Abdullah Saleh dalam tempo 24 jam, dan di tengah kecaman baru internasional terhadap pemerintahannya karena menggunakan kekerasan yang berlebihan. Sehari sebelumnya, seorang pemrotes Yaman tewas dan 40 lainnya cedera ketika pasukan keamanan dan orang-orang bersenjata berpakaian sipil melepaskan tembakan ke arah demonstrasi di Sanaa, kata seorang petugas medis.

Pasukan keamanan melepaskan tembakan ke arah ribuan demonstran yang berpawai dari lapangan di pusat protes di Sanaa menuju distrik kantor pusat pemerintah berada. Di kota pusat industri Taez, penembak gelap membunuh dua pemrotes dan puluhan orang terluka akibat tembakan senapan, gas air mata dan pentungan oleh aparat keamanan yang berpakaian sipil. Pemrotes membalas dengan membakar sebuah kantor polisi dan menutup bangunan-bangunan pemerintah.

Taez, kota terbesar kedua di Yaman, telah menjadi titik fokal protes yang menuntut pengunduran diri Presiden Ali Abdullah Saleh, yang berkuasa sejak 1978. Pertumpahan darah itu menambah amarah publik menjelang Jumat, yang biasanya menjadi hari utama kerusuhan selama pemberontakan tiga bulan menentang kekuasaan Saleh.

Massa telah kehilangan kesabaran dengan negosiasi yang macet untuk mengakhiri kekuasaan Saleh yang telah berlangsung 33 tahun, dan kekerasan meningkat di Yaman, sebuah negara dimana setengah penduduknya memiliki senjata api. Dalam pawai Rabu di Sanaa, pemrotes berusaha mencapai gedung kabinet.

Demonstrasi di Yaman sejak akhir Januari yang menuntut pengunduran diri Saleh telah menewaskan lebih dari 150 orang. Oposisi Yaman mendesak Saleh mengakhiri kekuasaan tiga dasawarsanya dan menyerahkan wewenang kepada deputinya untuk periode peralihan, namun usulan itu ditolak oleh pemimpin kawakan tersebut.

Sementara itu Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh Selasa bertemu dengan duta besar Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) untuk Yaman, Jamal bin Omar, di ibu kota Sanaa untuk membahas solusi-solusi krisis politik di negara tersebut, kata kantor berita negara Saba. Saleh memberikan penjelasan singkat tentang hasil pertemuan, bahwa Omar telah melakukan pertemuan dengan para pemimpin oposisi Rapat Gabungan Partai-partai(JMP) tentang kebuntuan politik yang berkepanjangan.

Dalam pertemuan tersebut, utusan PBB menunjukkan kesiapan untuk membantu memecahkan kebuntuan politik antara Saleh dan JMP, dan menekankan bahwa krisis tersebut harus diselesaikan secara damai tanpa campur tangan asing dalam urusan internal Yaman. Omar mendesak semua pihak partai politik di Yaman untuk duduk di meja dialog guna merundingkan secara langsung kemungkinan solusi untuk mengakhiri krisis dan mencegah kekacauan di Yaman, menurut Saba.

sumber : Antara/AFP/Reuters/Saba
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement