REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK - Dolar mengalami penurunan terhadap euro pada Kamis waktu setempat, karena setumpuk laporan ekonomi mengecewakan menunjukkan pemulihan ekonomi Amerika Serikat masih lemah.
Pada 21.00 GMT (Jumat 04.00 WIB) euro meningkat menjadi 1,4308 dolar dari 1,4236 dolar akhir Rabu.
Indikator yang menunjukkan aktivitas industri AS lesu, masih menekan penjualan rumah, dan terus tingginya klaim baru pengangguran memberikan sedikit alasan untuk pedagang mendukung greenback.
"Penjualan existing home (rumah yang sebelumnya telah dimiliki atau rumah yang sudah dibangun sebelumnya selama satu bulan atau dikenal juga dengan home resales) di AS sangat lemah, didukung bahwa kami melihat beberapa kenaikan di euro," kata Samarjit Shankar dari BNY Mellon.
Kathy Lien dari GFT mengatakan data menggarisbawahi kemungkinan bahwa Bank Sentral AS atau Federal Reserve bermaksud untuk mendorong kenaikan suku bunga, bahkan ketika program "pelonggaran kuantitatif" dimatikan untuk menyuntikkan lebih banyak likuiditas ke dalam sistem.
"Pergeseran selama enam minggu terakhir menunjukkan berapa lama investor berpikir itu akan memakan waktu bagi Federal Reserve untuk mulai menaikkan suku bunga," katanya.
"Bahkan meskipun Fed telah meletakkan strategi keluar mereka, terakhir laporan ekonomi mengkonfirmasi mereka tidak siap untuk melaksanakannya," kata dia.
Dolar diperdagangkan pada 81,60 yen dari 81,64 yen pada Rabu, sedangkan pound Inggris turun menjadi 1,6235 dolar dari 1,6162 dolar.