REPUBLIKA.CO.ID,AMMAN - Negara-negara Arab masih mencari jalan untuk mengatasi tindakan keras terhadap para pemrotes di Suriah, Kamis (10/11). Suriah sebelumnya telah mengingkari rencana perdamaian dari Liga Arab.
Kekerasan masih terus berlanjut setelah Suriah menyetujui rencana tersebut. Pertemuan pada Sabtu (12/10) pun disangsikan akan menjembatani masalah ini.
Beberapa negara yang beroposisi memberikan tekanan yang serius terhadap Assad. Menteri luar negeri sepertinya tidak akan membekukan keanggotaan Suriah di Liga Arab pada pertemuan di Kairo.
Jika negara-negara Arab mengisolasi Suriah, opini publik barat akan berkembang. Suriah kemungkinan akan mendapatkan sanksi yang keras dan mendapatkan intervensi.
Arab memimpin kelompok negara-negara Gulf termasuk Qatar, Oman, dan Bahrain. Kelompok tersebut siap untuk menaikan tekanan terhadap Assad yang merupakan sekutu musuh mereka, Iran. Para duta besar berkata mereka tidak disetujui oleh beberapa negara seperti Yaman, Libanon, dan Algeria.
Saat ini Yaman sedang mengalami pemberontakan di negaranya sendiri. Di Libanon, pengaruh Suriah terlihat besar. Beberapa negara tersebut terlihat bersimpati terhadap Assad dan mengkhawatirkan intervensi yang diberikan untuk Suriah dapat menyebabkan kekecewaan warganya.
Di Suriah, Menteri Luar Negeri Walid al-Moualem mengatakan pemerintah akan mengikuti rencana, yakni menarik militer dari kota, membebaskan tahanan politik, dan berunding dengan negara oposisi yang ingin menggulingkan Assad. “Suriah menegaskan akan melaksanakan rencana tersebut dalam satu minggu. Tidak seperti yang diberitakan oleh saluran satelit yang tidak adil,” ujar Moualem di sebuah surat yang ditujukan untuk Sekretaris Jenderal Liga Arab. Kutipan surat tersebut ditampilkan di media resmi.
Pengamat Hak Asasi Manusia (HRW) melaporkan tentara pemerintah telah membunuh 104 orang dan melakukan kejahatan kemanusiaan di pusat kota Homs sejak rencana tersebut disetujui. Mereka juga menyebutkan memiliki akses yang sulit terhadap Suriah. Laporan yang mereka dapatkan berasal dari wawancara terhadap 114 penduduk Homs yang telah keluar dari negara tersebut atau berkomunikasi melalui internet dengan orang di Suriah.
Sedikitnya 3500 peduduk Suriah tewas ketika militer melaksanakan operasinya untuk menghentikan para pemrotes yang menentang rezim Presiden Bashar al-Assad di Homs. Suriah telah melarang media asing untuk meliput sehingga sulit untuk membuktikan kebenarannya dari aktivis dan pemerintah.