Selasa 06 Dec 2011 06:15 WIB

Barat Berjanji Takkan Lupakan Afghanistan

Rep: Ditto Pappilanda/ Red: Chairul Akhmad
Tentara NATO dan pasukan Afghanistan mengepung salah satu tempat kediaman militan Afghanistan.
Foto: AP
Tentara NATO dan pasukan Afghanistan mengepung salah satu tempat kediaman militan Afghanistan.

REPUBLIKA.CO.ID, BONN – Delegasi internasional berkumpul di Kota Bonn, Jerman, untuk menghadiri pertemuan yang membahas tentang masa depan Afghanistan. Tetapi Ketidakhadiran perwakilan Taliban dan Pakistan menimbulkan keraguan tentang hasil yang bisa dicapai pertemuan ini.

Konferensi Bonn dihelat untuk mengatasi pengalihan tanggungjawab keamanan dari pasukan internasional ke pasukan keamanan Afghanistan selama tiga tahun ke depan. Termasuk prospek jangka panjang untuk pemberian dana bantuan internasional dan kemungkinan penyelesaian politik dengan Taliban.

Sekitar 100 negara dan organisasi internasional hadir di Bonn, termasuk 60 menteri luar negeri, yang di antaranya adalah Menlu AS, Hillary Rodham Clinton. "Tujuan kami adalah Afghanistan yang damai tidak akan pernah lagi menjadi tempat yang aman bagi terorisme internasional," kata Menteri Luar Negeri Jerman Guido Westerwelle.

Jerman sebagai tuan rumah bersumpah untuk terus mendukung pemerintah Afghanistan setelah sebagian besar pasukan tempur asing meninggalkan Afghanistan pada 2014. "Kepergian pasukan asing tidak akan menjadi akhir dari kehadiran internasional di Afghanistan. Kami tidak akan melupakan Afghanistan setelah 2014. Keterlibatan kita akan bertahan," tambah Guido kepada delegasi.

Masalah yang perlu dibahas dalam pertemuan ini di antaranya tentang bagaimana membagi dana bantuan bagi kepolisian dan tentara Afghanistan yang baru terbentuk.

Sekalipun memiliki situasi keamanan yang mengkhawatirkan, Pakistan mungkin menajadi pemain tunggal yang paling penting dalam upaya untuk mengakhiri kekerasan di Afghanistan. Tetapi Pakistan mengatakan akan memboikot Konferensi Bonn setelah pesawat NATO membunuh 24 tentaranya dalam serangan yang disebut sebagai kecelakaan yang tragis.

Banyak negara Barat yang berharap Pakistan akan menggunakan pengaruhnya untuk mengajak Taliban Afghanistan untuk ikut dalam pembicaraan damai. Namun, ada kekhawatiran bahwa keberadaan kelompok militan akan mendorong Afghanistan jatuh kembali ke perang sipil saat pasukan asing sepenuhnya angkat kaki.

Perselisihan baru juga mungkin akan memunculkan lebih banyak kekerasan di perbatasan di Pakistan, yang terlibat dalam pemberontakan anti-pemerintah Islam. "Ada badai masalah yang sangat potensial di masa depan Afghanistan," kata Sajjan Gohel, Direktur Keamanan Internasional dari Asia Pacific Foundation di London.

sumber : AP/Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement