REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Seorang pembom meledakkan bom dalam sebuah mobil dekat sebuah rumah sakit Baghdad, Jumat menewaskan 28 orang dalam hari paling berdarah di ibu kota itu dalam sebulan, saat krisis politik menimbulkan ketegangan.
Serangan di satu daerah pemukiman berpenduduk mayoritas Syiah itu juga menyebabkan 50 orang cedera, terjadi beberapa hari setelah Al Qaidah memperingatkan bahwa pihaknya akan terus menyerang warga Syiah dan hampir sebulan setelah pasukan Amerika Serikat merampungkan penarikan mereka, yang menimbulkan kecemasan baru akan kemampuan pasukan keamanan domestik.
Pada pukul 11.00 waktu setempat (15:00 WIB) serangan terjadi dekat rumah sakit Zafraniyah di Baghdad timur saat satu proses pemakaman membawa jenazah-jenazah dari satu keluarga yang tewas di rumah sakit itu, Kamis.
Helikopter-helikopter terbang rendah sementara banyak pasukan keamanan bersenjata berat menutup lokasi ledakan itu. Di luar rumah sakit itu, kelompok-kelompok pria berteriak mencari para keluarga mereka yang hilang.
Di dalam rumah sakit, orang berkerumun mengelilingi para dokter untuk menanyakan tentang keluarga mereka, tetapi seorang perawat mengatakan " Saya tidak dapat memberitahu anda apapun -- hanya ada tangan dan kaki, kami tidak tahu milik siapa itu."
Seorang polisi di tempat kejadian itu yang menolak menyebut jati dirinya, mengatakan "Pembom bunuh diri itu ditujukan pada prosesi pemakaman itu."
Beberapa toko terdekat dan rumah terbakar atau hancur, dengan banyak jendelanya rusak, sementara satu ambulan dan mobil-mobil hancur total.
Seorang dokter di rumah sakit itu mengatakan serangan itu menewaskan 28 orang dan mencederai 50 orang. Paling tidak empat wanita termasuk di antara mereka yang tewas.
Ledakan bom itu mengganggu prosesi pemakaman Mohammed al-Maliki, seorang agen real estat yang tewas bersama dengan istri dan anak laki-lakinya di Baghdad barat, Kamis.