REPUBLIKA.CO.ID, BEIRUT — Diplomat Arab dan Barat di PBB mengatakan telah merampungkan draf resolusi baru untuk menjatuhkan sanksi embargo senjata dan sanksi terhadap rezim Presiden Suriah, Bashar al-Assad. Namun demikian, belum ada jaminan bahwa Rusia dan Cina tidak akan memveto keputusan tersebut.
Draf resolusi baru muncul setelah pembicaraan di Dewan Keamanan PBB tak menghasilkan kata sepakat. Tidak diketahui seberapa berbeda draf tersebut dengan draf sebelumnya yang telah disusun.
"Kami berharap untuk dapat memberikan suara sesegera mungkin," kata duta besar PBB Inggris, Mark Lyall Grant,Kamis (2/2).
Utusan PBB di Pakistan, Abdullah Hussain Haroon, juga mengatakan konsensus sudah dicapai dari draf baru tersebut. Isi draf tak terlalu berbeda dengan sebelumnya yakni mendukung rencana Liga Arab agar Assad mundur dari jabatannya.
"Saya kira kami hampir mencapai sepakat. Saya harap hari ini kami dapat mencapai suara bulat dalam mengesahkan resolusi," kata Haroon. Namun demikian, ada dua kata yang akan mengganggu diloloskannya resolusi Suriah yakni PBB 'mendukung penuh' rencana Liga Arab untuk mendesak Presiden Bashar al-Assad menyerahkan kepemimpinan kepada wakilnya dan menyelenggarakan pemilu bebas.
Namun begitu, Duta Besar Rusia untuk PBB Vitaly Churkin mengatakan Rusia akan memveto jika draf itu menyatakan dukungan penuh terhadap resolusi Suriah. Rusia telah menolak keras bahasa apapun yang akan membuka pintu untuk 'perubahan rezim' di Suriah.