REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW - Menlu Rusia Sergei Lavrov yang pulang dari perundingan dengan presiden Suriah, menolak mengatakan apakah Moskow meminta pemimpin itu mundur. Lavrov justru menegaskan rakyat Suriah sendiri harus memutuskan nasibnya.
"Setiap hasil dialog nasional harus dihasilkan persetujuan antara rakyat Suriah sendiri dan harus disetujui seluruh rakyat Suriah," kata Lavrov kepada wartawan, Rabu (8/2).
Ia mengelak satu pertanyaan langsung dari seorang wartawan yang menanyakan diplomat penting Rusia itu apakah ia mendesak Bashar mundur ketika mereka berunding di Damaskus, Selasa (7/2) kemarin.
"Berusaha mempercepat memutuskan hasil dari dialog nasional itu pada hakekatnya bukan tugas masyarakat internasional," kata Lavrov dan menambahkan pemerintah dan semua kelompok oposisi harus duduk bersama untuk berunding.
Semua pihak yang memiliki pengaruh atas kelompok-kelompok oposisi Suriah harus mendesak mereka memulai perundingan dengan pemerintah Bashar.
Lavrov yang mendapat sambutan hangat seperti seorang pahlawan oleh para pendukung Bashar ketika tiba di Damaskus, juga mengatakan pemanggilan pulang para utusan dari Damaskus tidak akan membantu rencana Liga Arab.
"Saya kira pemanggilan pulang para duta besar itu tidak akan membantu mewujudkan kondisi-kondisi yang akan mendukung realisasi rencana Liga Arab," katanya.
Sehari setelah Amerika Serikat menutup kedutaannya di Damaskus, Prancis, Italia, Belanda dan Spanyol juga bersama Inggris dan Belgia, memanggil pulang dubes-dubes mereka untuk Suriah untuk konsultasi-konsultasi.
Enam negara Arab Teluk Persia mengatakan mereka memutuskan akan mengusir utusan-utusan Suriah dan menarik dubes-dubes mereka dari Damaskus sebagai protes atas "pembunuhan massal" warga sipil.
"Bagi kita setidaknya logika ini tidak jelas, sama tidak jelasnya dengan keputusan tergesa-gesa membekukan tugas misi Liga Arab di Suriah," ujar Lavrov.