Jumat, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Jumat, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Ahli Nuklir Iran Teken Petisi untuk Lanjutkan Perjuangan

Kamis 23 Feb 2012 12:48 WIB

Red: Djibril Muhammad

Ahmadinejad dengan para ahhli nuklirnya

Ahmadinejad dengan para ahhli nuklirnya

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN - Sejumlah ahli nuklir Iran menandatangani petisi yang disiarkan pada Rabu (22/2) yang menekankan komitmen mereka untuk terus melanjutkan nuklir bagi perdamaian yang saat ini terus berkembang. Mereka menandatangani petisi di sela-sela kunjungan mereka untuk bertemu dengan Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Ayatollah Khamenei.

"Ahli nuklir berkomitmen untuk mengecewakan mereka yang tidak senang dengan kemajuan nuklir Iran dan menggembirakan orang-orang yang tertindas. Para musuh harus tahu bahwa pembunuhan terhadap ahli nuklir tidak akan menghentikan kami dan malah memperkuat komitmen untuk membela hak Bangsa Iran untuk menggunakan energi nuklir bagi perdamaian," kata petisi itu.

Dalam pertemuan itu Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam, Ayatollah Khamenei, mengatakan bahwa hasil terbesar dari pencapaian nuklir yang dilakukan ilmuwan muda Iran adalah menciptakan rasa harga diri Bangsa Iran.

"Bangsa Iran tidak pernah menggunakan nuklir untuk senjata. Bangsa Iran akan membuktikan pada dunia bahwa senjata nuklir tidak akan membuat berkuasa. Orang dapat mengalahkan berbagai kekuatan yang berbasis senjata nuklir dengan mengandalkan bakat dan kapasitas alami mereka sebagai manusia," beber Ayatollah Khamenei.

Ahli nuklir Iran, Mostafa Ahmadi Roshan Bedhast (32), profesor kimia dan juga Wakil Direktur Fasilitas Pengayaan Uranium Natanz tewas dalam ledakan bom mobil pada 11 Januari lalu. Sebelumnya, Massoud Ali Mohammadi, juga tewas akibat serangan mobil pada Januari 2010.

Metode pembunuhan terhadap Roshan sama dengan serangan yang digunakan kepada ahli nuklir lainnya Fereidoun Abbasi Davani -- yang saat ini Kepala Organisasi Energi Atom Iran-- dan rekannya Majid Shahriani. Abbasi Davasi berhasil selamat dari serangan itu, sementara rekannya Shahriari tewas.

Ahli nuklir Iran lainnya, Dariush Rezaeinejad, juga tewas dengan metode yang sama pada 23 Juli 2011. Iran mengutuk CIA, M16 dan Mossad berada dibalik lima pembunuhan itu. Sementara AS dan sekutunya, Barat, menuding Iran mencoba membangun senjata nuklir dibalik program nuklir sipil Iran tanpa menunjukkan bukti nyata.

Teheran menekankan pengayaan uranium tersebut hanya dilakukan untuk tujuan sipil dikarenakan bahan bakar fosil yang semakin menyusut.

Meskipun aturan yang tercantum dalam Perjanjian Non-Proliferasi (NPT) memberikan hak setiap negara anggota, termasuk Iran, menggunakan hak untuk melakukan pengayaan uranium. Teheran saat ini juga mendapat sanksi dari Dewan Keamanan PBB karena menolak pemintaan Barat untuk menghentikan pengayaan uranium tersebut.

Teheran menolak keinginan Barat karena cacat secara politik tidak logis. Teheran menekan sanksi dan tekanan terhadap Iran malah membuat bangsa itu semakin solid.

Sebelumnya, Pejabat AS mengonfirmasi bahwa Israel terlibat dalam pembunuhan ilmuwan nuklir yang terlibat dalam program nuklir Iran. Keterlibatan Israel itu melalui pemberian sejumlah dana dan pelatihan bagi organisasi Rakyat Mujahidin Iran (MEK).

sumber : Antara/IRNA-OANA
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA