Selasa 20 Mar 2012 22:00 WIB

Presiden Baru Yaman Pertimbangkan Bubarkan Pemerintah

Rep: Lingga Permesti/ Red: Hazliansyah

REPUBLIKA.CO.ID, SANA’A -- Seorang pejabat senior Yaman mengatakan presiden baru negara itu sedang mempertimbangkan membubarkan pemerintah persatuan nasional, Selasa (20/3). Pembubaran ini dikarenakan Presiden Abdu Rabbbo Mansour Hadi melihat adanya campur tangan dari para pendahulunya di pemerintahan.

Pejabat itu mengatakan kepada kantor berita AP, bahwa Hadi frustasi dengan gangguan konstan yang dilakukan oleh Ali Abdullah Saleh, presiden yang mengundurkan diri pada bulan lalu untuk mengakhiri kekacauan politik di Yaman. Partai Kongres Saleh dan kelompok oposisi menjadi mitra dalam pemerintahan sekarang.

Sebelumnya, Mantan Presiden Yaman, Ali Abdullah Saleh, menjadi oposisi dan mulai mengkritik pemerintah koalisi nasional, Sabtu (10/3). Ia menyebut pemerintah sekarang lemah dan dalam politik yang rawan dan tak aman.

Saleh menganggap, pemerintahan yang tengah berlangsung merupakan simbol korupsi, penghianat serta agen dolar dan Ryal. Ia juga mengkritik pemberontakan terhadapnya dan menggambarkan lawan-lawannya sebagai preman. “Apa jenis revolusi yang mereka bicarakan? Revolusi preman? Revolusi keterbelakangan?”katanya. Revolusi nyata, ungkap Saleh, terjadi pada September 1962 di utara dan pada 14 Oktober 1963 di selatan.

Hambatan juga dari para penerbang Yaman. Seperti yang diberitakan Washington Post, ribuan penerbang Yaman berhasil menekan Hadi untuk memecat komandan angkatan udara. Penerbang berpangkat rendah melakukan pemogokan selama lebih dari dua bulan untuk menekan Hadi. Keputusan memecat Mayjen Mohammed Saleh dikarenakan ia merupakan saudara tiri presiden terguling.

Meskipun protes tersebut berhasil, demonstran terus turun ke jalan untuk perombakan rezim. Pada Senin (19/3), ribuan warga Yaman melakukan demo anti-pemerintah diseluruh wilayah negeri. Mereka menuntut restrukturisasi politik dan reformasi militer. “Mereka menyerukan pemecatan pejabat yang setia dan masih berhubungan dengan Ali Abdullah Saleh, “kata pernyataan yang dilansir Press Tv.

Komandan angkatan udara bukan satu-satunya saudara Saleh yang masih menjabat sebagai pejabat pemerintah. Saat ini, mertua Saleh, Saleh bin Ahmed memerintah Pengawal Republik Elit. Keponakannya, Yehya, merupakan kepala dinas keamanan pusat dan  keponakan lainnya, Tariq, mengontrol Pasukan Presiden.

Para demonstran juga menuntut agar penguasa Ali Abdullah Saleh digulingkan, atas percobaan pembunuhan pada hampir 2.000 demonstran sejak revolusi mereka dimulai tahun lalu. Departemen HAM Yaman mengatakan setidaknya 2.000 orang tewas meliputi demonstran tidak bersenjata dan pembelot militer. Sekitar 120 orang diantaranya anak-anak dan 22 ribu orang terluka sejak tahun lalu.

sumber : Press tv
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement