Sabtu 24 Mar 2012 09:28 WIB

Mali Diguncang Kudeta, Presiden Dipastikan Selamat

Presiden Mali, Amadou Toumani Toure
Presiden Mali, Amadou Toumani Toure

REPUBLIKA.CO.ID, BAMAKO---Tentara menjarah stasiun pompa bensin dan membajak mobil di ibu kota Mali, Jumat (23/3), 48 jam setelah kudeta militer, sementara Uni Afrika menyatakan organisasi itu mendapat jaminan Presiden Amadou Toumani Toure "selamat".

Uni Afrika (AU) membekukan keanggotaan Mali setelah kudeta tersebut, yang telah membuat negara di Afrika Barat tersebut goyah dan menebar kekhawatiran di wilayah yang mengalami guncangan akibat perang Libya tahun lalu.

"Kami telah diberitahu presiden selamat, dilindungi oleh sejumlah pengikut setianya," kata Kepala Komisi AU Jean Ping kepada wartawan setelah pertemuan Dewan Keamanan dan Perdamaian blok itu di ibu kota Ethiopia, Addis Ababa.

"Presiden tersebut dipastikan berada di Mali. Jaminan yang kami terima berasal dari mereka yang melindungi dia di ia berada tak jauh dari Bamako," kata Ping.

Desas-desus beredar mengenai akan adanya kudeta tandingan yang dipimpin oleh pengikut setia Toure, dan Amadou Sanogo --Kapten Angkatan Darat yang diangkat sebagai pemimpin kudeta-- telah tewas, kabar yang dibantah melalui stasiun TV negara.

"Kami memastikan kalian bahwa semuanya baik-baik saja," demikian isi pernyataan dari para pemimpin kudeta, sebagaimana dikutip Reuters --yang dipantau ANTARA di Jakarta, Sabtu pagi. "Kami mengundang anda semua untuk melakukan kegiatan harian anda secara normal."

Sanogo belakangan muncul di dalam berita malam, tapi tidak jelas kapan gambar mengenai dia tersebut diambil.

Para pemimpin kudeta telah berusaha memanfaatkan ketidak-puasan rakyat mengenai cara Toure menangani aksi perlawanan oleh suku nomad di bagian utara negeri itu pada Januari. Namun mereka kelihatannya terkucil saat koalisi partai mengutuk kudeta tersebut dan mendesak diselenggarakannya pemilihan umum baru, yang sebelum peristiwa Rabu (21/3) telah dijadwalkan diadakan pada April.

"Para penandatangan ... mengutuk pengambil-alih kekuasaan secara paksa ini yang merupakan kemunduran besar bagi demokrasi kita," kata 10 partai terbesar di parlemen, termasuk ADEMA, di dalam pernyataan bersama.

Sementara itu penduduk di Bamako mengatakan penjarahan telah mengakibatkan kekurangan barang kebutuhan dan harga bahan bakar berlipat jadi lebih dari 1.300 franc CFA (2,60 dolar AS) per liter dalam waktu 24 jam.

"Saya seorang pengemudi tapi tak ada bahan bakar buat mobil saya. Saya bahkan tidak memiliki bahan bakar buat sepeda motor saya untuk pulang," kata Youssouf Diawara saat ia mengantri bersama pengendara lain untuk membeli bensin.

Kendati kebanyakan toko, stasiun pompa bensin dan tempat usaha tutup, sebagian warga keluar rumah untuk mencari kebutuhan pokok.

"Warga takut pada tentara. Seringkali (mereka mengambil) apa yang ada di dalam mobil atau mereka menyuruh orang ke luar dan mengambil mobilnya atau kadangkala tentara sendiri masuk secara paksa ke dalam toko," kata warga Bamako, Adama Quindo.

Namun, Jumat malam, seruan oleh Sanogo bagi diakhirinya penjarahan tampaknya memiliki dampak, saat jalan menjadi lebih tenang dan tentara terlihat di satu gudang. Mereka menangkap sebanyak 20 warga sipil yang sedang mengambil barang.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement