REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON – Amerika Serikat menangguhkan rencananya mengirim bantuan makanan ke Korea Utara (Korut). Pejabat Pentagon mengatakan, keputusan tersebut diambil karena Korut melanggar janjinya untuk menghentikan peluncuran rudal.
Korut juga dinilai tidak dapat dipercaya untuk memberikan bantuan bagi mereka yang membutuhkannya. Sebelumnya, AS sempat memperingatkan Korut bahwa peluncuran apa pun dapat membahayakan bantuan makanan bagi negara komunis tersebut.
Asisten Sekretaris Kementerian Pertahanan AS untuk Asia Pasifik, Peter Lavoy, mengatakan rencana Korut meluncurkan roket bulan depan merefleksikan ketidakpatuhan Korut terhadap komitmen internasional. Lavoy mengatakan kepada Komite Angkatan Bersenjata, pihaknya ragu bantuan makanan akan diberikan kepada rakyat yang membutuhkan.
Dalam kesepakatan bulan lalu, Korut telah setuju untuk menghentikan sementara sebagian aktivitas nuklirnya. Sebagai gantinya, AS akan memberikan 240 ribu ton bantuan makanan.
AS telah menghentikan bantuan pangan ke Korut sejak 2009. Perjanjian pada Februari lalu bertujuan untuk menyalurkan kembali program bantuan pangan yang sempat terhenti itu. Sejak bencana kelaparan pada 1990, Korut mengalami kekurangan persediaan makanan dan bergantung pada bantuan makanan untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya.
Korut telah menjadwalkan rencana peluncuran roket pada 12-16 April. Peluncuran tersebut diklaim untuk tujuan ilmiah. Namun, AS dan negara tetangga Korut menuding peluncuran tersebut adalah peluncuran rudal jarak jauh yang dilarang dalam resolusi PBB. "Peluncuran tersebut sangat provokatif karena merupakan perwujudan keinginan Korut melakukan uji coba dan memperluas kemampuan rudal jarak jauhnya," ujar Lavoy, Kamis (29/3).