Senin 02 Apr 2012 09:34 WIB

Hamas: AS dan Israel Ingin Gulingkan Kami

Hamas
Foto: muslimdaily
Hamas

REPUBLIKA.CO.ID, GAZA -- Pukulan provikatif dan terang-terangan dikeluarkan pemimpin gerakan perlawanan Islam, Hamas, Khalil Al-Hayya yang mengatakan, krisis listrik di Jalur Gaza dalam beberapa bulan terakhir adalah hasil persekongkolan antara para pemimpin Amerika Serikat, Israel dan Palestina.

"Para pemimpin AS, Israel dan Palestina di Ramallah, Tepi Barat, bekerjasama untuk menggulingkan Hamas dan memperketat blokade atas Jalur Gaza," kata Khalil Al-Hayya seperti dinukil dari AFP.

Pernyataan tersebut provikatif itu adalah kali pertama yang dikeluarkan Hamas sejak penandatanganan kesepakatan perujukan antara Hamas dengan faksi Fatah pada 27 April 2011 di ibu kota Mesir, Kairo.

Ya, tahun lalu Hamas dan Fatah sepakat untuk rujuk. Kedua faksi itu menandatangani kesepakatan yang menyerukan pembentukan segera pemerintah konsensus. Kemudian, pemerintah tersebut akan melicinkan jalan bagi pemilihan presiden dan anggota dewan legislatif sekitar Mei 2012.

Namun, seperti dilaporkan AFP, proses itu telah berulangkali membentur penghalang, dan pembentukan pemerintah sementara terbukti sulit diwujudkan. Hal itu diperkeruh dengan krisis listrik di Jalur Gaza akibat kekurangan pasokan bahan bakar.

Tuduhan persekongkolan pun tersebar kian luas, dan pasukan keamanan Hamas telah mendirikan penghalang jalan serta menangkap puluhan anggota Fatah dan orang lain yang mereka tuduh 'menyebarkan desas-desus'. Fatah telah memprotes penahanan itu atau panggilan buat interogasi atas 'ratusan' anggotanya, termasuk jurubicaranya di Jalur Gaza.

Palestinian Centre for Human Rifhts, yang berpusat di daerah kantung pantai tersebut, mengatakan sebelumnya organisasi itu sangat prihatin dengan surat panggilan yang dikeluarkan buat sedikitnya 80 anggota Fatah.

"Mereka (angota Fatah) mengaku mereka ditanyai mengenai tuduhan tentang peran faksi mereka terhadap pemerintah di Jalur Gaza sehubungan dengan krisis listrik tersebut," kata pusat itu akhir pekan ini.

Kementerian Dalam Negeri Hamas mengumumkan telah menangkap lebih dari 100 orang karena tuduhan 'menyebarkan desas-desus mengenai kekurangan listrik dan bahan bakar'. Satu-satunya pembangkit listrik di Jalur Gaza menghentikan operasi pada 23 Maret, hanya 48 jam setelah Israel mengirim 450 ribu liter bahan bakar yang dibeli Pemerintah Otonomi Palestina, Mahmoud Abbas di Tepi Barat Sungai Jordan. Dan Hamas mencium bau persengkongkolan dalam pembelian itu.

sumber : AFP
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement