REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN (ANP/DPA) - Iran menolak campur tangan asing dan menepis seruan peralihan kekuasaan di Damaskus. Penegasan itu disampaikan Menteri Luar Negeri Iran, Ali Akbar Salehi, Rabu (11/4). Hal itu diutarakan dia saat berbicara dengan perantara internasional Kofi Annan mengenai keadaan di Suriah.
Menurut Salehi, Bashar al-Assad harus tetap menjabat presiden apapun hasil konflik di Suriah. Tanpa Assad akan muncul vakum kekuasaan yang bahaya dan bisa berdampak gawat. Demikian Menlu Iran memperingatkan.
Iran adalah sekutu penting rezim Assad. Persekutuan sudah ada di bawah pimpinan ayah Bashar, jenderal sekaligus diktator Hafez al-Assad (1930-2000).
Sementara itu, Cina mendesak pemerintah Suriah mempercepat penerapan gagasan perdamaian Kofi Annan, utusan khusus PBB dan Liga Arab untuk Suriah. Hal itu diungkapkan juru bicara kementerian luar negeri Cina dalam jumpa persnya, di Beijing, Rabu (11/4).
Negara adikuasa Asia ini mengatakan sangat prihatin terhadap keadaan di Suriah, yang masih tetap dilanda kekerasan walaupun partai-partai yang bertikai mencapai kesepakatan dengan Annan. Cina mendukung gagasan perdamaian, seusai perundingan antara Annan dengan pemimpin Cina di Beijing bulan lalu.
Menurut rencana, pasukan pemerintah Suriah harus mundur dari kota-kota Selasa (10/04), 48 jam kemudian gencatan senjata dimaksudkan mengakhiri semua permusuhan antara pasukan pemerintah dan kalangan pemberontak. Batas waktu rencana itu berakhir Kamis pagi (12/04).
Annan, yang berkunjung ke Iran, Rabu (11/04) mengatakan masih ada peluang untuk menghentikan kekerasan di Suriah dalam waktu 24 jam, walaupun rezim Presiden Assad tidak menaati batas waktu Selasa (11/04) untuk menarik mundur pasukan dari wilayah perkotaan.