REPUBLIKA.CO.ID, ADEN -- Sedikitnya 34 orang, sebagian besar militan Islam, tewas di Lawdar, selatan Yaman, Jumat (13/4). Mereka tewas dalam bentrokan antara pasukan pemerintah dengan kelompok yang berafiliasi dengan Alqaidah tersebut.
Militer Yaman meluncurkan operasi yang lebih agresif terhadap kelompok pejuang Islam lima hari lalu. Operasi tersebut mulai intensif berjalan pada Jumat (13/4) kemarin. Militer menurunkan pasukan elit antiteroris dari ibukota Sanaa untuk bergabung melawan kelompok pejuang Islam.
Berdasarkan pernyataannya di lamannya, Kementerian Pertahanan Yaman mengatakan 28 militan terbunuh saat bentrokan di barat Lawdar. Pejabat lokal dan sumber lokal juga mengatakan tiga militan dan tiga anggota etnis lokal berkelahi di luar kota Lawdar. Sejak bentrokan terjadi Senin pekan ini, sumber lokal mengatakan jumlah korban tewas mencapai 200 orang.
Pejabat lokal mengatakan, angkatan udara Yaman mengebom dua tempat yang dikuasai kelompok partisan Islam Ansar al-Sharia. Tidak ada laporan korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Pejabat lain mengatakan, pasukan keamanan berhasil menangkap pemimpin senior Alqaidah dari Lawdar.
Sementara dalam pernyataan melalui pesan elektronik, kelompok Islam mengatakan, pasukannya membunuh 37 orang dalam dua hari. Tujuh orang diantaranya tewas dalam serangan Jumat. Bahkan, mereka juga mengklaim telah menembakkan roket ke kediaman kepala keamanan di selatan Aden. Tiga petugas keamanan tewas dalam serangan roket tersebut.
Kelompok tersebut berhasil menguasai sebagian besar wilayah di Abyan dalam pergolakan meminta Presiden Ali Abdullah Saleh turun. Arab Saudi dan AS berharap kesepakatan politik akan mencegah Alqaidah menguasai jalur perdagangan minyak.
Konflik dengan kelompok Islam di selatan hanya salah satu tantangan yang dihadapi presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi. Ia berjanji akan memerangi Alqaidah.