REPUBLIKA.CO.ID, BAGHDAD - Serangan-serangan senapan dan bom melanda daerah Baghdad Kamis (3/5) saat Wakil Presiden Irak Tareq al Hashemi diadili. Persidangan berlangsung tanpa dihadiri Tareq, karena ia menuding penuh dengan rekayasa politik.
Hashemi, pejabat penting Sunni, dituduh bersama dengan beberapa pengawalnya menangani satu regu tembak tetapi wakil presiden itu tidak akan menghadiri sidang di Baghdad itu karena meninggalkan Irak beberapa pekan lalu.
Beberapa jam sebelum sidang itu menurut rencana akan dibuka, tembakan-tembakan dan serangan-serangan bom meletus di daerah Harithiyah tempat Pengadilan Pidana Pusat Irak terletak, kendatipun tidak dekat dengan kompleks pengadilan itu.
Serangan itu terjadi pukul 08.00 waktu setempat (12.00 WIB) menewaskan seorang tentara Irak sementara dalam waktu yang hampir bersamaan tiga bom di pinggir jalan mencederai dua polisi penjinak bom, kata seorang pejabat kementerian dalam negeri.
Sidang Kamis itu akan mengadili kasus "pembunuhan direktur jenderal kementerian keamanan nasional, seorang perwira di kementerian dalam negeri dan seorang pengacara," kata juru bicara pengadilan Aldelsattar Bayraqdar.
Tuduhan-tuduhan terhadap Hashemi diberkaskan Desember setelah pasukan AS merampungkan penarikan mereka, yang memicu krisis politik dengan kelompok wakil presiden itu memboikot kabinet dan parlemen karena menuduh Perdana Menteri Nuri al-Maliki memonopoli kekuasaan.
Hashemi dan sejumlah pengawalnya Senin juga dituduh terlibat dalam pembunuhan enam hakim.