REPUBLIKA.CO.ID, STOCKHOLM -- Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Hillary Clinton mengatakan, dukungan Rusia sangat diperlukan untuk mengurai kesemrautan atas konflik yang sedang terjadi di Suriah. Hal itu dikatakan Clinton pada jumpa pers di Stockholm, Swedia, Ahad (3/5).
Hillary mengaku telah berbicara dengan Menlu Rusia, Sergey Lavrov pada dua atau tiga hari lalu. Dalam pertemuan itu, Hillary meminta Rusia harus 'maju terus' di meja perundingan untuk membantu mencapai transisi politik di Suriah.
Menurut Hillary, Lavrov mengacu pada contoh Yaman yang mengambil banyak waktu dan usaha dengan sejumlah negara yang terlibat di meja perundingan untuk mencapai transisi politik. "Kami ingin melihat hal yang sama terjadi di Suriah," sebut Hillary.
Perdana Menteri Swedia, Fredrik Reinfeldt, yang juga hadir pada konferensi pers itu bersama dengan Menlu Swedia, Carl Bildt, mengaku Swedia dan AS akan mendukung transisi politik. "Sejalan dengan rencana (utusan bersama PBB-Liga Arab) Kofi Annan," sebut Reinfeldt.
Hillary mengungkapkan keprihatinan tentang situasi ekonomi bermasalah di Eropa karena Amerika Serikat sangat menghargai hubungan dengan mitra Eropa. Ia menekankan, "Situasi itu benar-benar tergantung pada Eropa sendiri untuk membuat keputusan yang bergerak maju."