Senin 04 Jun 2012 15:53 WIB

Soal Krisis Suriah, Uni Eropa Desak Rusia Bersikap Tegas

Rep: Ani Nursalikah/ Red: Ajeng Ritzki Pitakasari
 Unjuk rasa mengutuk aksi pembantaian penduduk sipil Houla, yang dilakukan oleh warga Suriah yang tinggal di Tripoli,Lebanon, Sabtu (3/6).
Foto: AP
Unjuk rasa mengutuk aksi pembantaian penduduk sipil Houla, yang dilakukan oleh warga Suriah yang tinggal di Tripoli,Lebanon, Sabtu (3/6).

REPUBLIKA.CO.ID, ST PETERSBURG - Desakan para pejabat Uni Eropa  terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin untuk mengambil langkah konkret terhadap krisis di Suriah bakal menjadi topik yang mendominasi selama konferensi tingkat tinggi Rusia-Uni Eropa ke 29 di Istana Konstantinovsky, Rusia, Senin (4/5).

Negara anggota Uni Eropa ingin Rusia menekan sekutunya tersebut menarik senjata berat dari kota dan mematuhi sepenuhnya rencana perdamaian utusan PBB Kofi Annan. Rusia dan Cina juga menolak imbauan AS dan Eropa untuk mengutuk Presiden Bashar al-Assad dan mendukung turunnya Assad sebagai presiden.

Presiden Dewan Eropa, Herman Van Rompuy, Presiden Komisi Eropa, Jose Manuel Barroso dan Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Catherine Ashton  terlihat menghadiri pertemuan yang dilakukan pada Senin (4/5

Diplomat Eropa menganggap pertemuan itu sebagai kesempatan memperbarui hubungan dengan Putin sejak dia kembali ke kursi presiden awal bulan ini. Selain membahas soal Suriah, agenda konferensi adalah membahas perdagangan dan program nuklir Iran yang kontroversial. Rusia juga akan mencari cara mempercepat langkah agar perjalanan ke Eropa bebas visa.

"Kami perlu memastikan Rusia menggunakan pengaruhnya untuk meyakinkan rezim (Assad) menerapkan rencana perdamaian. Pihak Rusia jelas tidak membantu dalam mencari solusi secara politik," kata seorang pejabat Uni Eropa.

Sementara Rusia bersikeras menegaskan tidak melindungi, tapi mengatakan pencopotan Assad  tidak bisa menjadi prasyarat dialog politik. Ashton yang bertemu Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov sebelum makan malam mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa peran Rusia sangat penting bagi keberhasilan rencana Annan.

Dia mengatakan Uni Eropa ingin bekerja sama dengan Rusia untuk menemukan cara mengakhiri kekerasan. Sebelumnya, Ashton telah berbicara dengan Annan melalui telepon pada Ahad dan mereka sepakat bahwa krisis Suriah berada dalam titik kritis.

sumber : Reuters/bbc
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement