Sabtu 16 Jun 2012 07:19 WIB

Bantah Tudingan AS-Prancis, Rusia Tolak Lengserkan Assad

Rusia dan Cina
Rusia dan Cina

REPUBLIKA.CO.ID, Rusia membantah klaim AS dan Perancis bahwa Moskow telah memasuki pembicaraan mengenai transisi politik di Suriah dan masa depan negara itu tanpa Presiden Bashar Assad.

Sebelumnya, Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Victoria Nuland Kamis (14/6) mengatakan Moskow dan Washington melanjutkan pembicaraan mengenai strategi transisi pasca Assad.

Menteri Luar Negeri Prancis Laurent Fabius juga mengklaim bahwa Paris membahas skenario politik Suriah setelah Assad dengan Moskow.

Tapi Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov Jumat (15/6) menolak klaim tersebut, dan mengatakan bahwa Moskow tidak pernah mendiskusikan rencana transisi politik di Suriah yang akan mencakup lengsernya Assad dari kekuasaan.

''Tidak benar kita sedang membahas nasib Suriah setelah Bashar Assad. Kami tidak berurusan dengan perubahan rezim baik melalui menyetujui tindakan sepihak di Dewan Keamanan PBB, juga melalui konspirasi politik,'' kata Lavrov setelah pembicaraan dengan timpalannya dari Irak di Moskow.

Lavrov menilai rakyat Suriah harus menentukan masa depan negara mereka sendiri, dan dorongan (luar) untuk penggulingan Assad akan menyulut perang habis-habisan di negara itu.

"Penggulingan Assad bertentangan dengan aspirasi mayoritas rakyat Suriah yang masih mengandalkan rezim ini untuk keamanan dan kesejahteraannya. Dan opsi ini akan menyeret Suriah ke dalam perang saudara berkepanjangan dan berdarah,'' tegas Lavrov seperti dikutip  Huffington Post.

Rusia bersama Cina memblokir dua resolusi Dewan Keamanan PBB atas Suriah. Kedua negara itu berulang kali menegaskan bahwa negosiasi adalah satu-satunya cara untuk mengakhiri kekerasan di negara itu, dan menyatakan penentangan keras terhadap intervensi militer asing di negara Arab itu.

sumber : IRIB/IRNA
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement