Jumat 22 Jun 2012 14:04 WIB

Anak Muda Mesir: Siapa Saja, Asal Bukan Shafiq

 Pengunjuk rasa membakar poster calon presiden Mesir Ahmad Ahmed Shafiq di Kairo, Mesir.
Foto: (Amr Nabil/AP)
Pengunjuk rasa membakar poster calon presiden Mesir Ahmad Ahmed Shafiq di Kairo, Mesir.

REPUBLIKA.CO.ID, Diskusi panas terjadi di antara generasi muda Mesir, di tengah padatnya kereta, di kafe, maupun di jalanan. Akhir pekan lalu mereka melaksanakan pemilu presiden setelah runtuhnya kekuasaan Mubarak. Mohammed Morsi dari Ikhwanul Muslimin tampaknya akan keluar sebagai pemenang mengalahkan mantan menteri Ahmed Shafiq.

Taher (20) lega mendengar berita tersebut. “Kami sangat menentang Shafiq. Kalau dengan Morsi, kami hanya berselisih paham politik.”

Situasi di Mesir tengah memanas. Di Mansoura dan Delta Sungai Nil, hanya sedikit orang yang keluar untuk menggunakan hak pilih mereka. Di Kairo, militer menjaga tempat pemungutan suara di bawah teriknya matahari. Namun panasnya pemilu parlemen pada akhir 2011 nampaknya belum mereda.

“Revolusi telah dirampas,” ungkap pembuat film dokumenter Sally (25). “Karena pihak oposisi tidak bersatu, kini kami harus memakan buah simalakama: memilih tokoh dari rezim lama atau tokoh yang menginginkan negara Islam.”

Sally lantas memilih tidak menggunakan suaranya, seperti ribuan pemuda lainnya. Harian lokal Mesir Independent mempublikasikan sebuah tinjauan cara-cara kreatif membuat surat suara tidak sah. Contohnya dengan mencoblos gambar Batman atau artis terkenal.

Menurut kalangan muda, kedua kandidat presiden bukan hanya tidak dapat dipercaya, tapi keseluruhan revolusi sendiri telah kehilangan arah. Beberapa hari sebelum pemilu, Mahkamah Konstitusi memutuskan hasil pemilu parlemen tidak sah dan dibatalkan.

Di samping itu, mulai diberlakukan undang-undang yang menurut Amnesti International memberikan terlalu banyak kekuasaan kepada polisi militer dan dinas keamanan untuk menangkap warga sipil. Nampaknya, untuk sementara, undang-undang dasar yang baru belum juga bisa dibuat. Lagipula, kekuasaan presiden dibatasi oleh dewan militer.

Apakah Mesir harus kembali ke awal perjuangan? Heba Galal Youssef (17) dan Basma Iman (21) masih terus berharap. Menurut mereka, Mohammed Morsi akan mengembalikan Mesir ke jalur revolusi. Seluruh anggota keluarga Heba memilih Morsi.

Sementara itu, suara keluarga Basma terpecah-pecah. “Pada pemilu putaran pertama, kami semua memilih kandidat yang berbeda-beda. Kini setengah anggota keluarga memilih Morsi dan setengahnya lagi memilih Shafiq.”

Di dekat stasiun kereta di Kairo, lelaki bernama Mahmoud Drias (34) menyeka keringat di keningnya. Ia berasal dari Aswan dan datang ke Kairo untuk bekerja. Siang itu, ia tengah sibuk mencat pagar.

“Saya harus bersyukur masih punya pekerjaan- sekarang kerja, besok menganggur. Umur saya 34 dan belum menikah, karena tidak punya penghasilan tetap.”

Mahmoud pun akan memberikan suaranya kepada kandidat presiden Islam. “Setidaknya Mohammed Morsi percaya Tuhan. Semoga ia bisa menciptakan lapangan pekerjaan jika terpilih sebagai presiden.”

Sementara itu, yang lainnya memilih Morsi karena tidak mau memberikan suaranya kepada Shafiq. Seperti yang diungkapkan Taher (20): “Kami sangat bertentangan dengan Shafiq. Sedangkan Morsi hanya berbeda paham politik dengan kami.”

Meski begitu, Shafiq juga memiliki pendukung dari generasi muda. Sebuah spanduk besar dipasang di jalan di Mansoura, bertuliskan “Mubarak 2012, Shafiq=Mubaraq.”

sumber : RNW
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement