REPUBLIKA.CO.ID, LJUBLJANA -- Slovenia menentang campur tangan militer di Suriah. Sebab, campur tangan hanya memperparah keadaan dan menyebar ketidak-stabilan ke seluruh wilayah tersebut.
Menteri Luar Negeri Slovenia, Karl Erjavic, menyatakan hal tersebut dalam sidang gabungan Komite Urusan Luar Negeri dan Pertahanan di parlemen. Sidang pada Kamis (21/6) itu membahas masalah mengenai Suriah. Slovenia hanya akan ikut dalam operasi sejalan dengan resolusi Dewan Keamanan PBB dan Uni Eropa.
Suriah telah dilanda kerusuhan yang meningkat sejak Maret 2011. Dewan Keamanan PBB membentuk Misi Pengawasan PBB di Suriah (UNSMIS) pada April. UNSMIS memantau upaya penghentian kerusuhan di Suriah dan penerapan rencana perdamaian enam-pasal. Rencana perdamaian yang diajukan oleh Utusan Khusus Gabungan PBB-Liga Arab Kofi Annan.
Rencana enam-pasal tersebut, yang didukung banyak negara dan diterima baik oleh pemerintah Suriah, menyerukan pengakhiran kerusuhan, akses bagi lembaga kemanusiaan untuk menyediakan pertolongan buat mereka yang memerlukan, pembebasan tahanan dan dimulainya dialog politik menyeluruh.