Senin 02 Jul 2012 00:45 WIB

Kekuasaan Absolut Pangeran Liechtenstein Terancam Berakhir

Rep: Agung Sasongko/ Red: Karta Raharja Ucu
Pemandangan pegunungan Alpen yang khas, hasil peternakan dan pertanian, bangunan kuno termasuk Vaduz Castle sebagai istana pegunungan peninggalan Abad Pertengahan menjadi daya tarik utama pariwisata.
Pemandangan pegunungan Alpen yang khas, hasil peternakan dan pertanian, bangunan kuno termasuk Vaduz Castle sebagai istana pegunungan peninggalan Abad Pertengahan menjadi daya tarik utama pariwisata.

REPUBLIKA.CO.ID, VADUZ -- Liechtenstein, negara monarki absolut yang tersisa di Eropa, tengah menanti babak baru. Hasil referendum yang berlangsung Ahad (1/7) ini, akan menentukan kekuasaan absolut keluarga kerajaan diakhiri atau dilestarikan.

Meski demikian, Pangeran Alois, pewaris kerajaan Liechtenstein terlihat santai dengan apa yang terjadi di negaranya. Belakangan, pangeran jarang terlihat di Vaduz, tempat ia dan keluarga menempati sebuah istana megah.  Ia justru menikmati kebersamaan bersama istrinya, Putri Sophie dan empat anak mereka berbelanja dan menikmati bak warga biasa.

"Saya menghormatinya, kami memerlukannya. Leichtenstein tanpa dirinya tidak akan menjadi apa-apa," kata seorang penjual perangko seperti dikutip telegraph.co.uk, Ahad (1/7).

Kembali soal refrendum, latar belakang peristiwa bersejarah itu dimulai ketika parlemen memutuskan untuk mengakhiri veto yang dimiliki sang raja di setiap pembuatan Undang-Undang baru. Nyatanya, tindakan parlemen itu justru membawa perubahan hebat pada negara terkecil di dunia ini.

Sejumlah pihak yang pro mengatakan sulit di era modern untuk menaruh keputusan besar pada satu pihak yang diragukan. Di sisi lain, bagi kalangan kontra, keluarga kerajaan telah banyak memberikan kemakmuran pada rakyatnya setelah negara ini berdiri pada 1972 itu.

Menurut mereka yang tidak setuju, label negara kedua terkaya di dunia, setelah Monako dengan rata-rata pendapatan perkapita warganya mencapai £ 85 ribu, merupakan bukti keluarga kerajaan telah menjalankan tugasnya dengan baik. Tapi label itu tidak serta merta cukup bagi kalangan pembaharu yang menginginkan hal lebih.

"Mengapa ia harus menyerahkan hak istimewa. Apa karena dia hanya mengeluarkan kebijakan yang hanya bermanfaat bagi keluarga kerajaaan dan kepentingannya. Ia tidak membayar pajak," papar kalangan pro, Sigvard Wohlwend (43).

Markus Bugler, 51 tahun, mengatakan pangeran seperti seorang ayah bagi seluruh warga Liechtenstein. "Anda memiliki Ratu Inggris, sehingga Anda harus mengerti mengapa kami mendukung pangeran. Inggris memiliki Big Ben, Perancis memiliki Menara Eiffel, kami memiliki seorang pangeran yang menjadi simbol keberadaan Liechtenstein," kata dia.

Kerajaan Liechtenstein adalah negara seluas sekitar 120 kilometer persegi, yang terletak di tepi timur Sungai Rhein di antara Austria dan Swiss. Segala urusan luar negeri negara berbahasa Jerman ini diurus Swiss. Liechtenstein terkenal pula dengan jasa perbankan dan mengandalkan pendapatan dari sektor pariwisata, terutama penjualan prangko.

sumber : telegraph.co.uk
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement