REPUBLIKA.CO.ID, KABUL -- Menteri Luar Negeri AS, Hillary Clinton tiba di Kabul, Afghanistan dalam kunjungan yang tidak diumumkan, Sabtu (7/7). Ia tiba sehari sebelum menghadiri pertemuan di Tokyo, Jepang, dimana Afghanistan akan diberi bantuan kemanusiaan.
"Dalam perjalanan menuju Tokyo, menteri ingin berhenti di Kabul untuk mengecek sebelum pertemuan para menteri digelar," ujar pejabat senior Kementerian Luar Negeri AS kepada wartawan.
Diplomat AS tersebut akan melakukan pembicaraan singkat paginya dengan Presiden Afghanistan, Hamid Karzai di Istana Presiden di Kabul.
Pada kunjungannya, Clinton mengumumkan keputusan Presiden AS, Barack Obama yang menyebut Afghanistan sebagai sekutu nonNATO terbesar. Hal tersebut menandai kerangka kerja jangka waktu lama untuk kerja sama keamanan dan pertahanan. Selanjutnya, Pemerintah Afghanistan semakin mudah untuk mendapat material pertahanan.
Karzai juga akan hadir di Tokyo bersama Clinton dan Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-moon. Mereka telah meminta bantuan sipil sebanyak empat miliar dolar AS pertahun.
Bank Dunia memperkirakan, Afghanistan membutuhkan sekitar 3,9 miliar dolar AS pertahun untuk memulihkan perekonomian. Bank Dunia khawatir bantuan bagi Afghanistan akan berhenti begitu penarikan pasukan dilakukan pada akhir 2014.
Prinsip kerja sama akuntabilitas yang saling menguntungkan akan ditekankan dalam pertemuan 70 negara nanti. Jika Afghanistan mampu memenuhi syarat, terutama transparansi, bantuan dana dipastikan akan mengalir.
"Komunitas internasional akan terus bekerja sama dan menunjukkan komitmen kuat yang selama 10 tahun terakhir telah dilakukan," kata pejabat AS yang menolak disebutkan namanya.
Ia menolak merinci jumlah bantuan yang dijanjikan AS. Pada tahun fiskal 2012, bantuan sipil AS sebesar 2,3 miliar dolar AS. Pada 2013 AS memberi satu miliar dolar AS.
Para negosiator masih membicarakan kapan bantuan akan dikucurkan. Pejabat AS itu mengatakan tujuan pertemuan Tokyo untuk mengimplementasikan transisi di bidang ekonomi, terutama bagi rakyat. Ia menekankan pentingnya peran sektor swasta dan mendukung investasi di sektor swasta.
Setelah berperang lebih dari 30 tahun, ekonomi Afghanistan sangat lemah. Negara tersebut jelas tidak bisa bertahan tanpa bantuan asing.
Menurut Bank Dunia, lebih dari 95 persen pengeluaran negara 2010-2011 dihabiskan untuk pertahanan dan pembangunan yang dananya berasal dari para pendonor. Tanpa ekonomi yang berfungsi baik, Afghanistan hanya mampu memenuhi dua miliar dolar AS dari pengeluaran enam miliar dolar AS pertahun. Itu belum termasuk pengeluaran di bidang keamanan.
Para diplomat Barat mengatakan Afghanistan khawatir seiring dengan penarikan pasukan NATO, bantuan dana juga akan ditarik. Sumber mengatakan kemungkinan bantuan 3,9 miliar dolar AS akan diteken di Tokyo. Namun, para pendonor besar akan sulit dibujuk.
Menteri Luar Negeri Jepang, Koichiro Gemba mengatakan, ia berharap akan ada kesepakatan bantuan sedikitnya tiga miliar dolar AS. Namun, dalam wawancara dengan surat kabar 'Asahi Shimbun' yang terbit Jumat (6/7), ia meminta sejumlah syarat kepada Afghanistan.
"Afghanistan harus meningkatkan kapasitas pemerintahan, termasuk menghapuskan korupsi," ujarnya seraya menambahkan akan ada mekanisme yang memantau perkembangan itu setiap dua tahun.