REPUBLIKA.CO.ID, DAMASKUS -- Rakyat Suriah menjalani Ramadhan dalam suasana sangat berbeda dari tahun sebelum-sebelumnya. Krisis berkepanjangan negeri tersebut membuat muram kegembiraan menyambut datangnya bulan suci Ramadhan 1433 Hijriah.
Jalan-jalan di Damaskus, Ibu Kota Suriah, sepi senyap. Hanya segelintir warga yang pergi ke Masjid untuk menunaikan shalat tarawih. Warga mengkhawatirka pemboman mendadak yang sudah umum terjadi selama 17 bulan kerusuhan.
Menurut banyak orang, Ramadhan telah kehilangan daya tarik dan gemerlapnya. Sekarang hari jadi terasa panjang, panas, membosankan dan menakutkan.
Banyak orang merasa gelisah di dalam rumah mereka sendiri. Mereka tak berani keluar sekalipun untuk membeli kebutuhan pokok dan melakukan kegiatan mendesak.
Bahkan opera sabun Ramadhan, yang dulu biasa membuat warga Suriah terpaku di kursi mereka, sekarang tak menarik lagi akibat kerusuhan yang saat ini melanda Suria.
Harga Kebutuhan Pokok Melangit
Pada akhir pekan pertama Ramadhan, bentrokan antara pasukan pemerintah dengan gerilyawan telah meluas ke ibu kota Suriah dan bahkan ke Aleppo. Kedua kota terbesar di Suriah itu telah lama menjadi pusat kekuatan yang setia kepada pemerintah Presiden Bashar al-Assad dan terhindar dari kerusuhan.
Situasi baru itu benar-benar mengejutkan sebagian besar warga di Damaskus. Sehingga, mereka langsung bergegas pergi ke pasar untuk membeli makanan dan barang kebutuhan pokok lainnya. Mereka mempersiapkan diri menghadapi perang saudara yang tampaknya tak terhindarkan.
Rakyat Suriah sekarang terlalu sibuk untuk menjaga kehidupan mereka selama Ramadhan. Sementara, kelangkaan bahan bakar dan barang lain melanda.
Harga bahan pangan meroket. Satu kilogram mentimun yang dijual dengan harga tak lebih dari 25 pound Suriah sebelum Ramadhan sekarang mencapai harga hampir 80 pound Suriah. Sekarang diperlukan waktu hampir dua jam untuk mengisi bahan bakar mobil.
"Situasi sekarang sangat jauh berbeda setelah bertahun-tahun semuanya berlimpah," kata Amal Awad, seorang ibu rumah tangga. Ia menambahkan ia telah lebih dari setengah jam mendatangi toko demi toko cuma untuk membeli daun seledri.
"Yang membuat kondisi bertambah parah ialah kenyataan anak-anak kami tak mengerti apa yang terjadi dalam krisis sesungguhnya ... Mereka merengek sepanjang hari dan mau keluar rumah," katanya.