Senin 30 Jul 2012 18:12 WIB

Warga Gaza Berbuka Puasa Sembari Gelap-gelapan

Rep: Agung Sasongko/ Red: Djibril Muhammad

REPUBLIKA.CO.ID, GAZA CITY - Lilin-lilin kecil menyala di tengah meja makan sedernana milik warga Gaza, Palestina. Lilin itu bukan dekorasi jelang berbuka, melainkan warga Gaza tengah mengalami pemadaman listrik. Tidak sejam atau dua jam pemadaman berlangsung, melainkan terjadi seharian.

Pekerja konstruksi, Abu Khaled mengatakan pemerintah tidak dapat melakukan apapun. Sebab, kekuasaan mereka begitu terbatas. "Tidak ada tanda-tanda kehidupan di sini," papar dia seperti dikutip onislam.net, Senin (30/7).

Sekitar 1.6 juta warga Gaza mengalami pemadaman listrik selama menjalani ibadah puasa. Pasokan listrik tersendat karena sistem kelistrikan rusak parah selama serangan Israel tahun 2006. Kondisi kian runyam, ketika hanya satu pembangkit dari enam pembangkit yang ada dapat dioperasikan.

Menetap di sebuah rumah sempit, di kamp pengungsi Shatii, rumah bagi 65 ribu pengungsi, Abu Khaled terpaksa berbuka di luar dengan cahaya bulan sebagai penerangan. Meski tidak begitu terang, minimal ia dan keluarga kecilnya mendapatkan udara segar.

"Kami berkeringat bukan karena makan, tetapi memang udara dalam rumah begitu panas," kata dia.

BBM Mahal

Selama Ramadhan, konsumsi listrik di Gaza meningkat. Sebab, seluruh keluarga muslim Gaza akan menyalakan lampu dari Maghrib hingga Subuh. Nah, untuk menyiasati agar tagihan listrik tidak membengkak, sebagian warga Gaza menggunakan generator.

Namun, generator tersebut kini menganggur. Itu karena harga bahan bakar kian mahal. "BBM sangat mahal," kata dia. Khaled mengatakan tidak bisa menghabiskan uangnya hanya untuk membeli bahan bakar.

Sejak tahun lalu, harga BBM naik dua kali lipat. Naiknya harga itu dikarenakan Mesir menolak untuk menambah pasokan. Sebaliknya, mereka mengurangi pasokan bahan bakar melalui Rafah, perbatasan Mesir-Palestina.

Enggan menyerah dengan keadaan, keluarga muslim mendirikan tenda di lepas pantai Gaza. Mengapa pantai, karena hanya kawasan tersebut yang masih dikendalikan pemerintahan Palestina. Selebihnya, daerah lain di Gaza dikendalikan Israel.

Saat matahari terbenam, Murad Sayed mulai mempersiapkan menu berbuka bersama dengan keluarganya. Selendang bermotif dihamparkan pada pasir yang putih. Ia letakkan menu-menu berbuka dengan rapi. Alhamdulillah, mereka berbuka meski di tempat yang tak lazim. "Di rumah, kami tersiksa. Tidak ada cahaya dan kipas," pungkasnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement