REPUBLIKA.CO.ID, PARIS -- Prancis memberi oposisi Suriah bantuan ketentaraan yang bersifat tak mematikan. Hal itu disampaikan Perdana Menteri Jean-Marc Ayrault pada Rabu (22/8) seperti dilansir AFP.
Saat berbicara kepada radio BFMTV-RMC, Ayrault menyatakan Prancis menanggapi baik permohonan bantuan dari oposisi yang berusaha menggulingkan Presiden Suriah Bashar Assad. "Pada tingkat ketentaraan, yang kami lakukan adalah menanggapi permintaan Dewan Bangsa Suriah dan perlawanan Suriah untuk memberi sejumlah tertentu unsur tak mematikan, sarana perhubungan dan perlindungan," kata Ayrault.
Perdana menteri itu menegaskan bahwa tidak ada masalah Prancis terlibat langsung dalam gerakan tentara di Suriah tanpa dukungan PBB. Dia mencontohkan seperti serbuan ke Irak pada 2003 oleh presiden Amerika Serikat George W Bush.
"Kami memiliki contoh Irak, tempat George Bush sendiri memutuskan berperang," kata Ayrault, "Kami menentang dan terbukti benar. Itu berakhir dengan kekacauan."
Ayrault juga menegaskan sikap Prancis bahwa Assad harus mundur, sehari setelah Wakil Perdana Menteri Suriah menunjukkan bahwa penguasa itu terbuka untuk membahas kepergiannya. Kementerian Luar Negeri Rusia pada Senin menyatakan penyelundupan senjata ke Suriah dari negara ketiga tidak dapat diterima.
"Moskow berulang kali memperingatkan bahwa penyelundupan senjata ke Suriah tidak dapat diterima dan memperingatkan mereka, yang mengungkapkan pemikiran seperti itu, akan dampak tindakan tersebut," kata kementerian itu.