Kamis 01 Nov 2012 19:03 WIB

Ajal Media Cetak (4-habis): Inovasi Dilarang Mandek

Rep: Siwi Tri Puji/ Red: Ajeng Ritzki Pitakasari
Gelondongan kertas bahan baku surat kabar (ilustrsi)
Foto: AP
Gelondongan kertas bahan baku surat kabar (ilustrsi)

REPUBLIKA.CO.ID, Tak dinafikan, tantangan yang dihadapi penerbit media cetak jauh lebih berat saat ini. Clayton Christensen, profesor Harvard Business School menyebutnya sebagai "Dilema Inovator".

"Dalam industri penerbitan, dilema inovator menyediakan pilihan palsu antara pendapatan hari ini dan janji digital besok," tulis Christensen dalam laporan terbaru bertajuk Mastering the Art of Disruptive Innovation in Journalism.

Ini adalah inti dari tantangan untuk perusahaan media apapun berbasis cetak. Perusahaan yang tetap bersikukuh sebagai "cetak-sentris" menjadi perusahaan media yang paling berisiko di masa mendatang.

Tentu saja, kata Christensen, penerbit tidak perlu meninggalkan cetak sama sekali, tetapi mereka perlu merestrukturisasi model bisnis dan budaya mereka secara signifikan mengurangi ketergantungan keuangan mereka pada cetak. Mereka tidak boleh terbuai dan puas dengan keuntungan jangka pendek dalam iklan cetak atau sirkulasi semata.

Christensen berpendapat bahwa perusahaan media tradisional perlu ganti lensa dalam memandang bisnis mereka. "Ide dasarnya adalah orang-orang tidak pergi mencari produk untuk dibeli. Sebaliknya,  ketika mereka menghadapi masalah, mereka mencari solusi dan pada saat itu, mereka akan menyewa suatu produk atau jasa. Wawasan kunci dan memikirkan bisnis Anda dengan cara ini adalah tugas. Ini bukan soal pelanggan atau produk, tapi melayani," katanya.

Persoalan itu yang dilihat Christensen dalam memahami gulung tikarnya edisi cetak Newsweek. Mereka tidak siap dari awal dengan penetrasi digital -- mereka baru sadar terjun dalam bisnis online adalah penting secara terlambat dengan menggandeng Daily Beast.

Arah editorial tak disiapkan untuk versi online dari awal. Yang ada kemudian, mereka serba terbata-bata dan meraba-raba.

"Newsweek tidak sekarat. Newsweek sendiri yang melakukan bunuh diri," kata Samir Husni,  profesor jurnalisme dan direktur Pusat Inovasi Majalah di University of Mississippi.

Bahwa kebiasaan membaca konsumen berubah, betul, dan karena itu penerbit perlu mengubah diri bersama mereka. Bukannya berdiam dan bangga dengan posisi sebagai leading dalam industri majalah.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement