Kamis 08 Nov 2012 18:57 WIB

Obama Diminta Kreatif Rangsang Pertumbuhan Ekonomi AS

Rep: Mutia Ramadhani/ Red: Dewi Mardiani
Melihat ke kaca terakhir kali pada 20 Januari 2009. Dalam beberapa menit hidup Obama berubah selamanya saat ia mengambil sumpah jabatan Presiden Amerika Serikat ke-44.
Foto: WHITE HOUSE/PETE SOUZA
Melihat ke kaca terakhir kali pada 20 Januari 2009. Dalam beberapa menit hidup Obama berubah selamanya saat ia mengambil sumpah jabatan Presiden Amerika Serikat ke-44.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Kepala Strategi Investasi Prudential International Amerika Serikat, John Praveen, menenangkan investor agar jangan panik. Kemenangan Obama seakan membuat investor siaga untuk menarik dana berjamaah dari bursa AS dan memindahkannya dalam bentuk investasi di tempat lain.

Investor kronis, sebab kemenangan Obama berarti rencana presiden kulit hitam itu untuk menaikkan pajak di kepemimpinan keduanya ini bakal terjadi. "Obama harus mencari cara-cara kreatif untuk merangsang pertumbuhan ekonomi," kata Praven dikutip dari USA Today, Kamis (8/11).

Praveen memaparkan lima hal yang perlu dilakukan Obama agar Wall Street kembali ramah padanya. Pertama, tentukan kebijakan yang akan diberlakukan Obama mengenai tebing fiskal. Sejumlah pajak akan keluar dari kantong orang-orang kaya AS dan kepercayaan investor akan kembali lagi.

Kedua, meskipun Obama berasal dari Partai Demokrat, namun tak ada salahnya berdamai dengan Partai Republik. Memperpanjang sejumlah kebijakan yang pernah ditawarkan Partai Republik mungkin bisa menjadi obat pelerai demam di parlemen. Misalnya perbaikan kebijakan perpajakan, kebijakan pengurangan defisit yang menempatkan ekonomi AS pada jalur berkelanjutan.

Direktur Utama Schwartz Investment Counsel dan the Ave Marie Mutual Funds, George Schwartz, menyarankan Obama memperbaiki aturan-aturannya yang masih kaku. "Misalnya lebih memperlonggar kesempatan perusahaan eksplorasi minyak dan batubara untuk berurusan pendanaan dengan bank. Jangan terlalu dibatasi," katanya.

Keempat, Obama harus memiliki sederet rencana matang dalam rangka menumbuhkan ekonomi AS kembali dan menekan angka pengangguran yang masih berkisar delapan persen saat ini.  "Obama perlu sedikit probisnis," kata Praven.

Kelima, mendongkrak nilai dan daya tarik saham. Salah satu caranya memungkinkan pemotongan pajak Bush. Tujuannya meningkatkan kemampuan pasar modal dari 15 persen menjadi 20 persen, sehingga pemilik saham mampu menerima dividen akhir tahun hingga 15 persen dari investasi total mereka.

Baru saja dua hari Obama menang, bank-bank AS sudah merasa kiamat. Banyak eksekutif di lembaga perbankan AS yang mengundurkan diri, seperti yang terjadi di dua raksasa bank AS, Morgan Stanley dan Goldman Sachs.

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement