Rabu 21 Nov 2012 21:50 WIB

SBY: Jangan Paksa ASEAN Pilih Cina atau AS

PM Jepang Yoshihido Noda, Presiden SBY, Sultan Halsanah Bolkiah, Presiden AS Brack Obama, PM Kamboja Hun Sen, PM Cina Wen Jiabao, PM Australia Julia Gilliard dalam KTT Asia Timur
Foto: AP Photo
PM Jepang Yoshihido Noda, Presiden SBY, Sultan Halsanah Bolkiah, Presiden AS Brack Obama, PM Kamboja Hun Sen, PM Cina Wen Jiabao, PM Australia Julia Gilliard dalam KTT Asia Timur

REPUBLIKA.CO.ID, Laporan Wartawan Republika Arys Hilman dari Kamboja

PHNOM PENH -- ASEAN harus menjaga jarak yang sama dan tepat kepada kekuatan-kekuatan di sekelilingnya. Dengan begitu, ASEAN dapat mengembangkan sentralitas perannya.

''ASEAN semakin berperan di dunia dan kita harus pastikan peran itu tepat,'' kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Rabu (21/11). Setelah mengikuti KTT ASEAN ke-21, Presiden bertolak ke Islamabad, Pakistan untuk menghadiri KTT D8.

ASEAN semakin diperhitungkan. Ini tampak dari kehadiran para pemimpin negara dunia dan sekjen PBB pada KTT ASEAN. Hadir pada acara itu, antara lain, kepala negara AS, Jepang, Cina, India, Korea Selatan, dan Australia.

Menurut Yudhoyono, negara-negara tersebut juga mengakui peran sentral ASEAN. Dengan ASEAN menjaga jarak yang sama, mereka tidak bisa memengaruhi negara-negara anggota.

''ASEAN harus netral namun aktif,'' kata Presiden. Dalam dunia yang bergejolak, ASEAN secara moral, ekonomi, politik wajib berkontribusi demi terbentuknya dunia baru yang lebih adil dan makmur.

Dengan dasar peran sentral itu, Indonesia mengangkat krisis Gaza, Suriah, dan Rohingya dalam sidang KTT ASEAN. Indonesia berusaha aktif dan proaktif.

Indonesia juga berperan dalam upaya penuntasan sengketa Laut Cina Selatan. Ketika pembicaraan di level menteri menghadapi jalan buntu pada Juli 2012, Indonesia berinisiatif untuk menyelesaikan melalui konsep Code of Conduct (CoC).

Dengan cara menjaga jarak yang sama, Indonesia juga bisa mendayung di antara dua karang besar dunia, Amerika dan Cina. Indonesia sama-sama dekat dengan kedua negara itu, namun posisinya jelas. ''Kita tidak mencari perlindungan siapa pun,'' kata Yudhoyono. Jarak yang sama juga berlaku untuk negara lain seperti Rusia, Jepang, Korea Selatan, dan Australia.

ASEAN, katanya, ingin bersahabat dengan Cina maupun AS. ASEAN jangan dipaksa untuk memilih salah satu. Dua-duanya mitra strategis. Dengan demikian sentralitas terjaga.

Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN dan KTT terkait di Kamboja menunjukkan fenomena luar biasa. Menurut Kepala Negara, sebelumnya tidak terbayangkan 18 negara yang dulu saling berperang, bermusuhan, sekarang duduk bersama dan mendapatkan manfaat riil dari kebersamaan itu. Ada AS, Rusia, Tiongkok, Korea Selatan Jepang, dan lain-lain yang kini membentuk arsitektur kerja sama yang baru.

Yudhoyono juga menyatakan misi diplomasi berangkat dari tujuan bangsa. Kepentingan Indonesia dalam dalam kerja sama regional adalah kepentingan untuk kemajuan ekonomi bangsa serta menciptakan kawasan yang aman dan damai.

''Kita berjuang, kita ingin lebih tumbuh lagi, lebih adil, lebih merata," kata Presiden. Ia berharap pembentukan Masyarakat ASEAN akan membawa manfaaf nyata. ASEAN sepakat mengikatkan diri sebagai Masyarakat ASEAN mulai Desember 2015.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement