REPUBLIKA.CO.ID, RAMALLAH -- Perdana Menteri Palestina, Salam Fayyad mengaku bahwa selama ini negaranya mengimpor barang dari Israel. Selama setahun itu, Palestina harus mengeluarkan uang sebesar 3 miliar dollar AS (sekitar Rp 30 triliun) sebagai biaya impor kepada Israel.
Di pihak lain, Palestina hanya menerima 618 juta dollar AS dari hasil ekspor mereka ke Negeri yahudi (sekitar Rp 6 triliun). Angka ini sesuai dengan catatan Biro Pusat Statistik Palestina.
Sadar akan besarnya Israel merengguk keuntungan ekonomi, Fayyad menyatakan akan segera menyerukan boikot impor barang dari Israel. “Saya menyerukan boikot sebagai jawaban atas agresi mereka terhadap kita,” kata Fayyad yang juga pakar ekonomi lulusan Amerika itu.
Ia menyebut, aksinya sebagai usaha membela hak bangsanya untuk bertahan hidup. Akan ada serangkaian tindakan dalam menerapkan boikot di lapangan.
Sebelumnya, Fayyad pernah mengundang kemarahan Israel. Sebab, ia membujuk warga tak membeli barang yang berasal dari permukiman Yahudi di Tepi Barat. Kali ini, cakupannya lebih luas, yaitu semua produk.