Rabu 02 Jan 2013 09:18 WIB

Kekerasan Terhadap Muslim Meningkat di Amerika

Terry Jones dalam videonya yang menuding Nabi Muhammad SAW sebagai otak dibalik serangan 9 September ke Gedung WTC. Ia menggantung sebuah boneka yang diklaim sebagai gambaran Rasulullah SAW.
Terry Jones dalam videonya yang menuding Nabi Muhammad SAW sebagai otak dibalik serangan 9 September ke Gedung WTC. Ia menggantung sebuah boneka yang diklaim sebagai gambaran Rasulullah SAW.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Pasca tragedi 11 September, masyarakat Muslim di Amerika memang kerap dijadikan sasaran kebencian.

Yang terbaru terjadi pada akhir Desember kemarin. Dikutip dari Aljazeera, Rabu (2/2), imigran asal India bernama Sunando Sen didorong ke jalur kereta bawah tanah dan tewas setelah terkena hantaman kereta yang lewat.

Teman satu rumah Sen, sesama imigran India, MD Khan mengungkapkan, Sen sudah menganggap New York sebagai rumahnya. Sen juga memiliki bisnis sendiri untuk menyambung hidupnya di The Big Apple.

Sehari setelah kejadian itu, kepolisian New York menangkap Erika Menendez yang menjadi pelaku kejahatan brutal tersebut. Menurut wanita berusia 31 tahun ini, kebenciannya pada umat Islam sudah terbentuk sejak kejadian 9 September.

"Saya selalu menyerang umat Muslim setelah kejadian itu," ujarnya.

Padahal, Sen yang Erika bunuh juga bukan seorang Muslim. Menurut Erika, ia menyerang Sen hanya karena ia berkulit cokelat dan terlihat jelas bukan berasal dari Amerika.

Tidak hanya di kalangan masyarakat, politisi Amerika juga kerap menjadikanm Muslim sasaran kebencian yang diungkapkan melalui pidato atau kampanye.

Perwakilan dari Partai Republik, Joe Walsh kerap menyebarkan kebencian terhadap warga Muslim. Dalam kampanyenya, Walsh selalu menyebutkan orang Muslim selalu berusaha membunuh orang Amerika setiap hari.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement