Kamis, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Kamis, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Atasi Sanksi Barat, Iran Siapkan Program Baru

Jumat 18 Jan 2013 01:36 WIB

Rep: Hannan Putra/ Red: Hazliansyah

Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad

Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad

Foto: Reuters/Murdani Usman

REPUBLIKA.CO.ID, -- Sanksi ekonomi dari negara barat terhadap Iran terkait program nuklirnya telah mengakibatkan ekonomi negara tersebut anjlok.

Presiden Iran, Ahmadinejad kemudian berencana memotong subsidi negara di beberapa sektor sebagai upaya pemerintah untuk menyelamatkan ekonomi Iran.

Usulan itu disampaikan kepada Parlemen Iran untuk segera menjalankan program pemotongan subsidi yang diusulkan pemerintah.

"Bila rencana ini (pemotongan subsidi) benar-benar dilaksanakan, kemakmuran akan merata dengan baik, keuangan negara akan terjamin, sektor produksi akan semakin meningkat, ketergantungan dari pendapatan minyak akan berkurang, dan kemiskinan bisa terentaskan," jelasnya seperti diberitakan ISNA, Kamis (17/1).

Lebih lanjut, Ahmadinejad mengungkapkan kekhawatirannya akan ekonomi Iran yang terus memburuk akibat sanksi barat.

"Musuh kita mengklaim, mereka sudah menerapkan sanksi terberat untuk kita semua termasuk larangan penjualan minyak dan sanksi di bank sentral. Secara umum, sanksi itu akan menyebabkan masalah seperti penghambatan pertumbuhan ekonomi, gangguan di perdagangan luar negeri, dan ketimpangan pendapatan," ungkap Ahmadinejad.

Ditahun 2010 Iran pernah melakukan pemotongan subsidi. Namun hal itu bukannya menyelamatkan perekonomian, tapi malah menyebabkan inflasi. Atas dasar itu, Parlemen Iran masih menunda fase kedua tentang usulan Pemerintah Iran soal subsidi pada November 2012 lalu.

Pendapat tersebut disampaikan Anggota Parlemen Iran, Mohammad Reza Bahonar. Menurut Bahonar, pidato Ahmadinejad soal pemotongan subsidi tersebut dapat memunculkan masalah-masalah baru.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA