Rabu 23 Jan 2013 17:53 WIB

Iran Usul Kairo Jadi Tempat Perundingan Nuklir

Menteri Luar Negeri Iran Ali Akbar Salehi.
Foto: AP
Menteri Luar Negeri Iran Ali Akbar Salehi.

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Pemerintah Iran mengusulkan Kairo sebagai tempat perundingan berikutnya dengan negara kuat dunia terkait program nuklirnya dan menyatakan bahwa Mesir menyambut baik usulan itu.

"Iran telah mengajukan tempat perundingan selanjutnya yaitu di Kairo, dan saudara kami Mesir telah menyetujuinya," kata Menteri Luar Negeri Iran, Ali Akbar Salehi, di Teheran, Rabu (23/1), seperti dikutip ISNA usai rapat kabinet.

"Mesir saat ini tengah berkonsultasi dengan kelompok negara P5+1, yang terdiri dari Amerika Serikat, Cina, Rusia, Inggris, Prancis dan Jerman," katanya menambahkan.

Salehi mengatakan konsultasi tersebut dilakukan oleh negosiator nuklir Iran, Saeed Jalili, dan Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Catherine Ashton, yang mewakili kelompok P5+1 dalam pembicaraan dengan negara Islam itu.

"Tanggal dan tempat perundingan akan diumumkan oleh Dewan Tinggi Nasional yang membawahi proses negosiasi nuklir itu," katanya.

Dalam pembicaraan terakhir di Moskow pada Juni lalu, Teheran menolak permintaan kelompok P5+1 untuk menghentikan aktivitas pengayaan uranium yang mereka lakukan, sekaligus meminta agar sanksi yang dikenakan kepada mereka sejak 2012 segera dihapus.

Pihak Barat yang dimotori oleh seteru utama Iran, Amerika Serikat dan Israel, menuduh Teheran tengah berupaya membuat sebuah senjata atom dengan dalih program nuklir damai yang mereka lakukan. Tuduhan itu kemudian segera dibantah keras oleh Iran.

Iran menolak untuk menghentikan pengayaan uranium, yang merupakan proses terpenting dalam peningkatan kapabilitas nuklir mereka. Mereka berkali-kali menjelaskan bahwa program nuklirnya bertujuan damai, khususnya untuk pembangkit listrik dan keperluan medis.

Teheran dikenakan berbagai paket sanksi PBB atas penolakan itu, sementara Amerika Serikat dan Uni Eropa secara sepihak juga memberikan sanksi tambahan yang bertujuan untuk menghambat ambisi nuklir mereka.

sumber : Antara/ AFP
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement