REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Menteri Luar Negeri AS, Hillary Clinton menyatakan teroris di Aljazair mendapat senjata dari Libya. Karena itu, dia memperingatkan kebangkitan militansi setelah musim semi Arab.
"Revolusi Arab memiliki dinamika kekuatan dan mengancam pasukan keamanan di seluruh wilayah, " ungkap dia kepada Komite Senat Hubungan Luar Negeri AS yang dipanggil untuk meninjau serangan Benghazi.
Dalam serangan Benghazi di Libya Timur, Dubes AS Chris Setevens dan tiga warga AS lainnya tewas. Clinton memperingatkan anggota parlemen bahwa diplomasi AS tidak dapat menarik diri dari perkembangan geopolitik. Menurutnya, AS harus menyesuaikan diri dengan ancaman yang terus berubah.
"Kita tidak bisa mundur sekarang, Ketika Amerika absen terutama dari lingkungan yang tidak stabil maka konsekuensinya ektrimis akan mengakar, kepentingan kita akan terabaikan dan keamanan negara terancam, "ungkapnya seperti dikutip Al-Arabiya, Kamis (24/1).
Clinton juga menyoroti ketidakstabilan di Mali. Menurutnya, hal itu menciptakan tempat bagi teroris tumbuh subur. Peristiwa itu juga memperluas pengaruh teroris. Dalam penyanderaan di Aljazair pekan lalu, tiga warga negara AS tewas.