Ahad 27 Jan 2013 05:49 WIB

Sempat Diculik, 11 Insyinyur Akhirnya Dibebaskan

Sudan dan Sudan selatan
Sudan dan Sudan selatan

REPUBLIKA.CO.ID, KHARTOUM -- Penculik membebaskan 11 insinyur dan pembangun jalan Sudan di wilayah bermasalah Darfur pada Sabtu, setelah sebelumnya membebaskan empat warga Cina rekan kerja mereka, kata pejabat media.

Kantor Berita SUNA mengatakan, mereka semua diculik oleh orang-orang bersenjata pada 12 Januari saat mereka menyelesaikan pekerjaan di Kabupaten Al-Kuma, sebelah timur laut El Fasher, ibu kota negara bagian Darfur Utara, yang telah terlihat timbulnya kembali kekerasan pada beberapa bulan terakhir.

SUNA mengatakan, 11 orang Sudan itu tampaknya berada dalam kesehatan yang baik ketika mereka dibebaskan dekat Desa Zam Zam, sebelah barat daya El Fasher.

Namun tidak dijelaskan mengapa jumlah korban penculikan telah meningkat menjadi 11, dari semula lima orang Sudan yang dilaporkan diculik di samping pekerja Cina.

Pasukan penjaga perdamaian internasional mengumumkan pada 16 Januari bahwa para pekerja China telah dibebaskan, yang dikonfirmasi oleh kedutaan Beijing.

Bupati Kuma Mohammed Sulaiman, dikutip SUNA mengatakan bahwa pembebasan kedua kelompok sandera itu terjadi "setelah upaya oleh pemerintah negara bagian."

SUNA menyalahkan kelompok pemberontak Darfur yang tidak disebutkan namanya untuk penculikan itu, namun Ibrahim al-Hillu, juru bicara satu organisasi pemberontak,

Tentara Pembebasan Sudan dari Faksi Abdelwahid Nur mengatakan kepada AFP bahwa satu milisi terkait pemerintah bertanggung jawab atas insiden itu.

"Menurut informasi yang kami terima pemerintah membayar uang tebusan untuk melepaskan pekerja Cina," katanya.

Beberapa tahun terakhir telah terlihat gelombang penculikan untuk tebusan di Darfur, di mana gerilyawan etnis meluncurkan pemberontakan terhadap pemerintah Khartoum yang didominasi Arab sepuluh tahun lalu.

Meskipun kekerasan telah turun dari puncaknya dan bentrokan pemberontak-pemerintah terus berlangsung, wilayah Darfur di Sudan barat jauh juga diganggu oleh para bandit, kerusuhan antar-Arab dan antar-suku.

Pada awal Januari dua penjaga perdamaian Jordania di Darfur dibebaskan setelah 136 hari ditahan. Seorang perwira intelijen Sudan menyalahkan "penjahat" untuk insiden tersebut.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement