REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Amerika Serikat berharap Rusia mengubah sikapnya dalam memberikan dukungan kepada pemerintahan Presiden Suriah, Bassar al-Assad.
Menteri Luar Negeri AS, Hillary Clinton menuding Rusia dan Iran tak berhenti mengirimkan bantuan dana dan memasok senjata untuk pasukan Assad.
Amerika menilai sikap Rusia dan Iran itu membahayakan jalannya perdamaian di Suriah. "Karena mereka tidak dapat melihat apa yang terjadi dan tidak yakin bahwa itu dapat menimbulkan bahaya bagi kepentingan-kepentingan siapapun, termasuk mereka," tutur Hillary, seperti dinukil dari AFP.
Hillary menjamin penggantinya sebagai Menlu AS, John Kerry akan meneruskan kebijakan luar negeri yang sudah dijalankannya.
"Dan semua yang dapat saya lakukan dengan menghormati satu transisi politik di Suriah," sebut dia.
Sebelumnya Hillary Clinton mengklaim negaranya sudah berupaya mengajak Moskow bekerja sama untuk mencari solusi, agar perang selama 22 tahun di Suriah dan menewaskan sekira 60 ribu orang, selesai. Namun, kata Hillary, Rusia malah mendukung pemerintahan Assad.
"Rusia bukan berdiri pasif dalam dukungan mereka pada Bashar. Mereka jauh lebih aktif pada sejumlah bidang. Pembelaan mereka pada Bashar di Dewan Keamanan PBB sudah sangat terang benderang. Mereka terus berusaha melindungi pemerintah Assad," kata Hillary seperti dinukil dari AFP.