Ahad 10 Feb 2013 19:40 WIB

Pemimpin Oposisi Rusia Ditahan, Ini Penyebabnya

Russian President Vladimir Putin (file photo)
Foto: AP/Misha Japaridze
Russian President Vladimir Putin (file photo)

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW -- Pengadilan Rusia pada Sabtu memutuskan pemimpin oposisi Sergei Udaltsov dikenai tahanan rumah atas tuduhan menghasut kekacauan massa untuk menggulingkan Presiden Vladimir Putin, kata media setempat.

Pengadilan Basmanny di Moskow menanggapi permintaan penyelidik, yang mengatakan Udaltsov tidak menunjukkan prilaku baik dan tidak bekerja sama dengan pihak berwenang.

Hakim itu mengatakan Udaltsov bisa lari ke luar negeri atau "berusaha melakukan niat-niat jahatnya".

Berdasarkan ketentuan penahahan rumah terhadapnya, Udaltsov harus tetap tetap tinggal di rumahnya sampai 6 April dan dilarang menggunakan telepon atau Internet. Ia hanya boleh berbicara dengan keluarganya, pengacaranya dan para pemeriksa.

Pemimpin partai Front Kiri berusia 35 tahun itu sampai kini tetap dilarang bepergian yang mencegah ia meninggalkan Moskow, menghadapi hukuman 10 tahun penjara jika terbukti bersalah.

Pihak bewenang melakukan pemeriksaan setelah televisi pemerintah menyiarkan satu dokumen Oktober yang menuduh Udaltsov bersekongkol untuk melakukan pemberontakan terhadap pemerintah Putin.

Udaltsov membantah tuduhan-tuduhan itu. Sebelum tampil di pengadilan, ia mengemukakan kepada media, "Menurut pendapat saya tidak ada yang berubah bahwa saya dikenakan tahanan rumah."

"Saya menanggapi semua pemanggilan dari para pemeriksa dan saya tidak meninggalkan Moskow," tambahnya. Komite penyelidik Rusia Jumat mengatakan bahwa Udaltsov tidak membantu pihak berwenang.

"Sergei Udaltsov tidak tinggal di mana ia terdaftar untuk waktu yang lama, telepon selulernya sering tidak aktif, membuat sulit untuk memanggilnya kata para penyelidiik," kata komite itu dalam satu pernyataan.

Komite itu mengatakan Udaltsov "tetap melakukan tindakan-tindakan ilegal, dan mengatakan aktivis itu ikut serta dalam satu aksi protes tanpa izin Januari lalu di mana ia mengimbau para demonstran "melancarkan aksi protes tidak terbatas".

Para pengacara Udaltsov mengatakan mereka akan mengajukan permohonan banding terhadap keputusan itu.

Ia adalah pemimpin oposisi terkemuka dikenakan tahanan rumah sejak aksi-aksi protes itu-- satu tanda bahwa pihak berwenang Rusia mungki sedang bersiap akan meningkatkan tekanan terhadap oposisi sementara mereka berusaha melumpuhkan para pembangkang.

Seorang aktivis oposisi lainnya, Ilya Yashin, menyebut penahanan itu sebagai "berita yang ttdak menyenangkan."

"Penahanan, peggeledahan dan pemeriksaan terhadap para tokoh oposisi oleh pihak berwenag kini menjadi hal yang biasa," katanya kepada radio Echo Moskow." Metode-metode mereka semakin lebih kasar,"

Sejumlah 19 orang telah dituntut atas aksi-aksi tahun lalu, 12 orang di antara mereka ditahan sebelum diadili. Mereka berisiko masing-masih dihukum sepuluh tahun penjara jika terbukti bersalah, termasuk Leonid Razvozzhayev, seorang staf anggota parlemen oposisi.

Kasus Razvozzhayev menimbulkan kecemasan internasional setelah ia mengatakan ia diculik di Ukraina dan dipaksa pulang ke Rusia, di mana ia ditahan dan disiksa.

Ia mengemukakan kepada kelompok hak asasi manusia bahwa ia mengaku tuduhan itu yang menyebabkan terjadi penahanan massal dan menyatakan anggota keluarganya diancam akan dibunuh.

Blogger antikorupsi Alexei Navalny juga ditahan tetapi kemudian dibebaskan. Menurut organisasi nonpemerintah Human Rights Watch masyarakat sipil Rusia manjadi sasaranb penindasan terburuk sejak ambruknya Uni Sovyet tahun 1991.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement