REPUBLIKA.CO.ID, Presiden Bashar al-Assad berjanji pada Jumat (22/3) untuk membersihkan Suriah dari tindakan yang disebutnya sebagai kekuatan ekstremis. Ia menuding mereka membunuh seorang ulama Sunni terkemuka, yang mendukung dua-tahun pertempuran melawan oposisi.
Assad membuat janji dalam pesan belasungkawa atas kematian Muhammad al-Buti, yang tewas bersama dengan puluhan jamaah oleh sebuah ledakan di sebuah masjid Damaskus pada hari Kamis (21/3). Media pemerintah menyebutkan, korban tewas dari ledakan sebanyak 49 orang.
Berbeda lagi dengan laporan Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia. Lembaga ini memonitor kekerasan di seluruh negeri mengatakan bahwa aksi pembunuhan itu telah menewaskan 52 orang, dan angka akhir adalah mungkin lebih dari 60 orang.
Pihak berwenang mengumumkan hari berkabung pada Sabtu (23/3), yaitu saat pemakaman ulama Sunni yang tewas itu, Buti. Ulama itu sering menyampaikan khotbah-khotbahnya di Masjid bersejarah Umayyah. Assad mengatakan, "Darahmu, dan dari semua martir Suriah tidak akan ditumpahkan sia-sia," kata Assad. "Kami menghilangkan kegelapan dan ekstremisme sampai kita membersihkan negara kita dari mereka."
Pemboman masjid terjadi di distrik yang sama Mazraa tengah Damaskus di mana sebuah bom mobil menewaskan lebih dari 60 orang satu bulan lalu, tanda lain bahwa perang saudara Suriah telah menembus ke jantung ibukota Suriah.