Selasa 02 Apr 2013 21:49 WIB

Masjid Sekolah Myanmar Kebakaran, 13 Orang Tewas

Rep: Rr Laeny Sulistyawati/ Red: Dewi Mardiani
 Anggota palang merah Myanmar dan warga Muslim mengangkat kantong jenazah korban kebakaran yang terjadi di sebuah masjid di Yangon, Myanmar, Selasa (2/4). (AP/Khin Maung Win)
Anggota palang merah Myanmar dan warga Muslim mengangkat kantong jenazah korban kebakaran yang terjadi di sebuah masjid di Yangon, Myanmar, Selasa (2/4). (AP/Khin Maung Win)

REPUBLIKA.CO.ID, YANGON -- Api melalap sebuah masjid asrama sekolah di gedung daerah Botataung, Yangon, Myanmar, Selasa (2/4). Sedikitnya 13 orang tewas dalam kebakaran itu. Gedung itu terdiri dari sebuah masjid, sekolah, dan asrama. 

Kebakaran terjadi pada pukul 2.40 waktu setempat saat murid-murid sekolah itu sedang tidur. Bangunan itu terbakar dari dalam. Pasukan keamanan, petugas pemadam kebakaran, dan tiga truk polisi anti huru-hara memblokir jalan di sekitar kompleks gedung di Yangon.

Api kemudian berhasil dipadamkan, dan sebanyak 13 anak beusia 12 tahun ditemukan tewas terbakar. ‘’Api disebabkan oleh transformator di bawah tangga yang terlalu panas, menyebar, dan menjebak anak-anak yang tidur di loteng. Akibatnya, 13 anak laki-laki meninggal karena lemas menghirup asap,’’ kata seorang petugas pemadam kebakaran.

Tetangga sekolah, dan pejabat Myanmar mengatakan, anak-anak di sekolah itu terjebak dalam kebakaran itu. Anggota masjid Soe Myint menuturkan, sebagian besar anak-anak itu telah dikirim ke pesantren oleh orang tua mereka. ‘’Mereka sedang tidur di lantai satu saat kobaran api dimulai dan mampu melarikan diri.,’’ ujar Soe Myint.

Menurutnya, dari 16 orang yang tidur di loteng di lantai pertama, dan terjebak ketika tangga yang menuju ke loteng terbakar. ‘’Tiga anak laki-laki melompat ke tempat yang aman, dan sisanya meninggal,’’ ujar Soe Myint.  Rencananya, 13 anak laki-laki itu akan dimakamkan pada Selasa sore.

Pemadam kebakaran Yangon mengatakan, pihaknya sedang menyiapkan sebuah tim untuk menyelidiki api bekerja sama dengan polisi, perusahaan listrik, dan perwakilan dari kelompok-kelompok Muslim.

sumber : AP/Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement