REPUBLIKA.CO.ID, GAZA -- Gerakan Perlawanan Islam (HAMAS), yang menguasai Jalur Gaza, telah menderita krisis keuangan parah sejak awal 2013. Demikian kata satu sumber di dalam gerakan Palestina itu pada Selasa.
Semua donor HAMAS, terutama Iran, mengurangi bantuan buat kelompok pejuang Palestina tersebut sejak hubungan mereka telah tegang selama dua tahun belakangan. Itu karena HAMAS menolak bersekutu dengan Iran dalam menentang revolusi Suriah melawan pemerintah.
Pemimpin HAMAS, Khaled Meshaal, meninggalkan pangkalan lamanya di Ibu Kota Suriah, Damaskus, pada awal tahun lalu. Dia pindah ke Qatar guna menghindari tekanan dari Suriah dan Iran.
Menurut sumber tersebut, satu aksi keamanan Mesir terhadap penyelundupan melalui terowongan bawah tanah di perbatasan bagian selatan Jalur Gaza dengan Sinai telah mempengaruhi hasil pajak HAMAS dari barang selundupan.
Sumber itu mengatakan Pemerintah HAMAS telah memberitahu pegawai pemerintah bahwa lima sampai 10 persen gaji mereka akan dipotong sampai krisis tersebut berakhir.
Ziad Az-Zaza, Menteri Keuangan HAMAS, mengakui pemerintahnya menghadapi krisis keuangan. Tapi, dia menolak untuk memberi perincian.
Anggota parlemen HAMAS telah menyetujui anggaran tahunan sebesar 887 juta dolar AS pada awal tahun ini. Sebanyak 654 juta dolar sebagai kekurangan yang direncanakan ditutup melalui bantuan luar negeri.