REPUBLIKA.CO.ID, SITTWE -- Kamp pengungsi Muslim Rohingya terancam bencana badai tropis. Setidaknya, terdapat 70 ribu warga Rohingya tinggal di kamp di Pantai Arakan bakal terkena banjir yang diramalkan akan terjadi pada Kamis (16/5) malam.
Muslim Rohingya ditempatkan di Ibu Kota Negara Bagian Arakan, Sittwe. Mereka menolak untuk dipindahkan ke kamp yang dikendalikan militer.
Otoritas pemerintah mengatakan, mereka telah bekerja dengan pejabat PBB untuk memindahkan Muslim Rohingya perlahan. Akan tetapi, hingga Rabu (15/5) siang tidak ada satu pun warga Rohingya yang berhasil dipindahkan.
Juru bicara Pemerintah Arakan Hla Thein menjelaskan, otoritas setempat telah mencoba untuk membujuk warga yang akan dipindahkan/Internally Displaced Person (IDP) untuk pindah ke kamp militer yang lebih besar di dekat Sittwe. Akan tetapi, warga Rohingya menolak untuk pindah.
Di Sittwe, terdapat 13 kamp IDP. Sebelas diantaranya adalah orang Bengali. Sementara kamp yang dihuni warga Rakhine telah pindah ke kuil di dekat Kota Sittwe. "PBB dan LSM sudah mencoba untuk bernegosiasi juga dengan pemerintah,"katanya seperti dikutip irrawady.org.
Sebagai catatan, Pemerintah Myanmar menolak menyebut mereka sebagai orang Rohingya akan tetapi lebih memilih kata Bengali yang merupakan imigran dari Banglades.
Badai Siklon berpindah dari Pantai Bengal dan terus menuju Pantai Banglades. Angin tersebut akan menyebabkan badai di Pantai Arakan. Hla Thein menjelaskan, bakal ada ombak setinggi 4 meter yang dapat mengancam warga Rohingya.